vicious.v

 
             

   
 
 

Wednesday, September 17

 
Don’t call me, ‘ Mommy!’
Iya, gue baru sadar kalo ternyata gue suka ama anak anak, tapi gue nggak pengen punya anak. Asli! Sampe hari ini gue kagak nemu aja satu alasan kenapa punya anak itu nyenengin, misalnya! Soalnya gue emang nggak pernah menemukan mereka amatsangatseru kayak jalan jalan, nongkrong ampe pagi plus baca buku and maen gim misalnya. Anak anak ya anak anak, mereka emang bikin gemes, mereka itu lucu, imut plus nyebelin juga kalo berisik…tapi… ya udah getu looh! Nggak ada apa apa lagi yang bikin mereka jadi sesuatu yang ‘nendang’ ke tulang dan hati gue buat dipunyain (lagian, emangnya ada manusia yang boleh memiliki manusia lainnya?). Iya, mungkin emang belom aja gue kena ngidam pengen anak-nya kali, tapi tetep aja kalo gue rasionalisasi-in gitu yaa..punya anak sendiri sama aja kayak ngangkat anak! Bedanya dimana?

Ikatan emosionalnya? Tapi bukannya anak anak memang akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang dewasa serta lingkungan sekitarnya untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan layak? Nggak, gue nggak mau bilang tumbuh dengan sehat, karena rasanya hampir nggak mungkin untuk membesarkan anak dalam keadaan dunia yang seperti hari ini! Busuk. Busuk dimana-mana! Udara,air,makanan,minuman, dan semuanya itu kita mesti bayar lagi! Nah, kalo udah kayak begini masih tega membiarkan seorang manusia baru untuk merasakan ini semua? Silahkan! Tapi yang jelas bukan gue aja orangnya! Hehehe!

Balik lagi ngomongin tentang ngangkat anak ya! Gue pernah sih ngebayangin kalo suatu hari nanti gue emang pengen punya anak, gue nggak merasa perlu aja punya anak sendiri atau anak kandung. Soalnya buat gue selain alasan lingkungan yang udah kadung hancur lebur di dunia ini, buat gue sendiri…anak adalah anak, titik. Nggak ada bedanya anak itu anaknya siapa kek, asalnya darimana kek, dia laki atau cewek kek! Dan buat gue sendiri, anak anak yang sekarang ada di sekitar gue jauh lebih butuh dukungan dan bantuan sesegera mungkin untuk bisa tumbuh berkembang daripada anak yang lahir dari rahim gue! Iya, gue sih realistis aja! Emo emo-an (bawa bawa Hati) kalo buat masalah ini gue kayaknya nggak bisa, karena emang gue nggak pernah pengen juga getu looh jadi orang tua! Heheheeh! Suer!

Selain itu, akhir akhir ini gue baru sadar manusia kalo jadi udah jadi orang tua, mereka kayaknya malah jadi nggak asik deh! Ini sih opini dari pengalaman gue plus ngeliat ortu temen temen gue ya! Mereka akan selalu punya ikatan emosional yang membuat mereka jadi punya kuasa dan kekuatan serta legalisasi buat melakukan apapun sama anak anaknya. Termasuk memaksakan kehendak dengan alasan buat kebahagiaan anak mereka, padahal sebenernya…buat kepuasan mereka sendiri. Kan nyebelin! Ortu gue kayaknya sebenernya orang orang yang menyenangkan kalo aja mereka nggak jadi orang tua, karena kadang buat gue mereka seolah selalu berada di posisi yang mengikat diri mereka sendiri dengan status itu! Anaknya mesti berpakaian begini, berperilaku begitu, masuk sekolah ini, kerja disitu, semuanya karena merasa mereka tau yang terbaik buat anak-anaknya itu tadi. Padahal kenyataannya lebih sering anaknya yang makan hati dan mereka yang berbangga hati! Hihihi!

Dan menurut gue, kayaknya mereka nggak akan menuntut yang lebih aneh aneh lagi kalo nggak ada ikatan emosional sebagai orang tua itu tadi. Iya, semua orang tua memang nggak mau anaknya celaka, tapi kenapa selalu caranya dengan MELARANG? Kenapa tidak dengan cara ngobrol seperti teman yang mungkin sifatnya berbagi opini atau sudut pandang? Orang tua gue juga awalnya memang seolah mereka mau mendengarkan opini anaknya, toh pada akhirnya tetap saja mereka melarang melarang juga! Hahaha! Iya kan?

Berarti kan pilihannya tetep aja di tangan orang tua, nggak di tangan anaknya sendiri! Terus kalo anaknya tetep aja nggak setuju atau nurut, langsung sangsi dijatuhkan! Durhaka lah, nggak tau berterima kasihlah, nyakitin hati orang tua lah..padahal emangnya seorang anak pernah punya sangsi buat orang tuanya kalau mereka menyakiti hati anaknya? Enggak pernah kan? Paling nggak gue nggak pernah lah berangkat mau diskusi atau ngobrolin sesuatu ama ortu gue terus gue udah punya rencana apa gitu untuk nyakitin orang tua gue kalo mereka ternyata nggak setuju sama keinginan gue. Walaupun memang gue menyiapkan berbagai macam cara pendekatan buat nyampein masalah gue misalnya, tapi hukuman atau sangsi? No way jo se!

Nah, kalo gue mesti belajar jadi orang tua mungkin gue nggak keberatan buat belajar melakukannya pada anak anak yang nggak ada hubungan darah serta secara fisik nggak deket sama gue….tapi gue tau mereka memang anak anak yang butuh bantuan dan dukungan untuk hidup. Gue juga mbantunya sebisanya aja lah! Tapi gue tau gue punya banyak cara buat membantu mereka dengan cara yang menyenangkan buat mereka juga gue sendiri! Bukan cuman dana ya, tapi gue biasanya lebih suka ngasi bantuan yang bentuknya barang barang yang mereka butuh atau suka seperti buku cerita, krayon, buku mewarnai, dan lain sebagainya. Dan masih ada satu lagi bentuk dukungan yang belum keturutan sampai sekarang yaitu membuat sebuah kegiatan buat anak-anak yang sifatnya interaktif, gratis dan sekaligus bisa membantu mereka belajar tanpa perlu seperti di sekolah-sekolah yang ada sekarang. Ada ide, nggak? Bagi dong! Kali kali aja kita bisa ngerjain bareng! Iya kan?

Selain itu mungkin juga karena gue memang lebih suka ngasi bantuan atau dukungan yang cara dan bentuknya bukan yang biasa aja, nggak tau kenapa…mungkin guenya aja sok kreatif karena gue pembosan!Hehehe! Tapi juga kan nggak ada poinnya melakukan sesuatu yang mesti menyenangkan buat orang laen tapi guenya sendiri nggak seneng, iya nggak sih? Nggak juga ya?! Hahaha!

Anyway, buat cewek cewek yang memutuskan untuk melahirkan anak-anak mereka karena mereka memang menginginkannya..salut buat kalian semua! Dan untuk cewek cewek yang melahirkan anak-anaknya karena terpaksa atau sekedar menuruti tuntutan suami, lingkungan ataupun orang tua mereka sendiri yang katanya pengen banget punya cucu…gue cuman berharap kalian tetap memelihara anak anak kalian sepenuh hati walaupun bukan sesuatu yang berawal dari kalian sendiri. Kenapa? Karena anak itu anugerah, dengan alasan apapun mereka lahir ke dunia ini!

Oh ya, sebuah pertanyaan: Kalau kamu cowok dan kamu ingin punya anak tapi kamu merasa nggak perlu menikah, apa yang akan kamu lakukan ?

Jawabannya ditunggu di cyanide@godisdead.com

Buat sepasang anak bungsu yang nggak suka anak anak…tulisan ini buat kalian! Luv ya both!





vicious - 6:11 AM

 
Seksploitasi,pilihan atau kutukan?
Kalau ada seorang perempuan ditanya apakah dia mau dieksploitasi untuk tampil menjadi seorang bintang iklan, masak iya dia nggak mau? Taruhan, sebagian besar perempuan pasti mau banget jadi bintang iklan! Tapi sekarang kalau pertanyaannya: mau nggak jadi bintang iklan yang mesti tampil dalam pakaian ketat atau mesti menunjukkan betapa indah payudara, paha atau kulit mereka? Nanti dulu! Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Karena apakah ini berarti perempuan tadi dieksploitasi? Belum tentu juga, kan pilihannya ada pada perempuan itu sendiri. Kalau dia bilang iya, berarti dia memang mau mengeksploitasi tubuhnya karena dia mendapatkan imbalan dari sana, misalnya. Kalau dia bilang tidak, itu juga haknya dia. That’s merely her choices. Period.

Oke, sekarang kita melihat peran perempuan dalam iklan yang memang membutuhkan keindahan fisik mereka tadi. Jangan lupa kalau pada kenyataannya ada banyak pilihan peran perempuan di dalam iklan, selain hanya menjual keindahan fisik mereka,iya kan? Tapi khusus untuk peran peran yang mengharuskan mereka untuk menonjolkan keindahan tubuhnya, biasanya produknya juga bukan cuma untuk lelaki tapi juga perempuan. Lho! Kok bisa?

Ya, sekarang kalau kita mau jualan produk pelangsing tubuh buat perempuan, pernah nggak kita lihat iklan yang menggunakan perempuan bertubuh besar dan berpembawaan maskulin misalnya. Nggak pernah kan? Karena mereka mesti menampilkan perempuan-perempuan yang istilahnya bertubuh ideal tadi sebagai hasil akhir dari penggunaan produk tersebut. Lalu sekarang, salahnya siapa? Perempuan yang menjadi model iklan tersebut atau perempuan perempuan yang terobsesi memiliki tubuh seperti itu? Menurut saya sih, nggak ada yang salah! Mereka semua hanya menjadi dirinya sendiri! Tapi keinginan, kebutuhan akan produk tersebut serta perempuan perempuan yang menjadi sasaran iklan tadi memang memang DIBENTUK oleh masyarakat dan lingkungan kita sendiri yang mengagung-agungkan perempuan dengan bentuk tubuh seperti itu. Mengerti kan maksudku?

Nah, kalau untuk produk buat lelaki gimana? Kenapa perempuan yang dipilih juga biasanya yang istilahnya nggak ada matinya dalam arti fisik? Karena kalau kita mau menjual ‘kecantikan dalam’ atau inner beauty di dalam sebuah iklan, itu susahnya minta ampun! Ya iyalah, sekarang gimana caranya kita menggambarkan seorang perempuan yang berani, kreatif, sensitif, jujur dan keibuan misalnya. Kita sendiri semua tahu untuk mengetahui karakter dan sifat perempuan butuh waktu dan proses! Iya kan, Cinta? Sedangkan, untuk menilai seorang perempuan bertubuh sempurna menurut standar lelaki? Gampang! Pandangi saja dia selama lima menit. Cara berjalan, berbicara, melipat kaki…selesai.Perempuan ini amat sangat menarik fisiknya! Dalam kurung: seksi abis pol.

Makanya, untung juga sih iklan televisi di sini durasinya paling lama 30 detik, coba kalo bisa sejam! Gila! Udah kayak kita bisa nonton sebuah film pendek yang pada akhirnya cuman mau bikin kita beli dan beli terus kali! Plus kepercayaan kita akan figur figur buatan televisi dan iklan iklan untuk mendefinisikan siapa yang keren, jelek, seksi, gagah, pintar, funky dan lain sebagainya itu pasti jadi makin aneh aneh dan nggak masuk akal deh! Hihihihi!

Namun peran perempuan dengan keindahan fisik mereka memang sangat kuat pengaruhnya di masyarakat kita selain terhadap kaum lelaki itu sendiri. Hingga jangan takjub kalau kamu mungkin bahkan pernah melihat iklan sebuah produk yang sama sekali sebenarnya mungkin nggak ada hubungannya sama perempuan apalagi perempuan bertubuh indah luar biasa, namun keberadaan mereka terasa sekali kalau dipaksa dimasukkan disana. Bahkan mungkin malahan jadi merusak iklan itu sendiri!

Habisnya gimana? Menurut hasil riset pemasaran yang umumnya dibuat oleh badan-badan riset maupun oleh produsen-produsen besar itu, pembeli mereka memang paling tertarik dengan visual bergambar perempuan perempuan seperti itu, Cinta! Dibandingkan sama menggunakan humor atau gambar indah seperti alam, anak anak maupun binatang sekalipun, perempuan bertubuh indah tampaknya memang masih menempati posisi teratas untuk gambar yang paling menarik untuk ditampilkan di iklan. Ini berlaku untuk produk massal ya yang berarti memang untuk masyarakat umum, tidak hanya mereka yang istilahnya katanya memiliki tingkat pendidikan tinggi maupun tinggal di kota serta mempunyai gaya hidup modern saja.

Produsen-produsen tadi kan juga tidak bodoh untuk mau mengeluarkan banyak uang untuk membuat iklan yang tidak menarik pembeli apalagi sasaran pembelinya itu tadi. Iya kan? Money talking, Baby! Lebih baik mereka menggunakan uang mereka untuk sesuatu yang sudah pasti menguntungkan daripada memilih menggunakan sebuah gambar yang masih belum tentu menarik pembeli mereka atau tidak. Iya kan? Makanya jadi produsen dong sekali sekali, jangan jadi konsumen melulu!Heheheh!

Jadi, kembali ke topik kita tadi tentang seksploitasi..ternyata memang tidak sesederhana tentang menjadikan perempuan sebagai obyek karena kelebihan fisik mereka,Cinta! Ada banyak hal yang menjadikan hal ini terjadi karena semuanya memang berhubungan dalam iklan, pemasaran dan komunikasi. Nggak bisa hanya dengan menghancurkan billboard, atau merusak spanduk saja misalnya karena seksploitasi perempuan di iklan ternyata melibatkan banyak pihak untuk mau merubah itu! Kalau cuman salah satunya aja yang nggak mungkin jalan! Karena iklan adalah ilmu komunikasi menjual barang, ini berarti kita bicara bahasa yang dimengerti semua orang di bidang pemasaran kan?

Mau bikin sebuah cara berkomunikasi atau bahasa berbeda di dalam iklan selain paha mulus dan dada montok? Jangan beli produk yang menggunakan iklan dengan figur perempuan seperti itu kalau jelas jelas kamu tidak butuh produknya! Kedua, jangan Lagipula kamu kan tahu definisi perempuan seksi dan cantik bukanlah yang mereka buat, tapi definisi kamu sendiri untuk diri kamu. Bener, nggak?

Jangan senyum senyum aja dong! Jawab! Hahahaha!

vicious - 6:09 AM

 
Namanya Peniti Pink.
Kalau ditanya kenapa namanya Peniti Pink, jawaban yang sok-sok dalemnya adalah: kita melihat ‘Peniti’ yang berfungsi untuk mengaitkan sesuatu seperti halnya distributor zine yang menjadi pengait antara para pembuat zine dan pembacanya. Lalu kalau ditanya kenapa ‘Pink’, pasti banyak orang akan tertawa kalau jawaban yang keluar seperti ini: soalnya kita suka warna itu! Hihihihi! Asli kan nggak nyambung? Hehehe! Tapi Peniti Pink sendiri secara penulisan menyenangkan untuk dibayangkan visualnya…punk banget, imut banget dan lain sebagainya lagi impresi yang didapat dari nama itu. Eh, ini menurut kita lho ya!

Okeh, urusan nama udah selesai sekarang urusan sejarah lahirnya si PePi ini sendiri ya! PePi percaya apa nggak percaya lahirnya itu dipicu oleh celetukan iseng seorang mantan kekasih salah satu armadanya, waktu itu kalimat pemicunya adalah, ‘Zine sebanyak itu nggak jadi apa apa juga kan?’

Hmmm...betul juga ya! Sekian lama mengoleksi zine dan mengumpulkannya dengan sepenuh hati lalu mau jadi apa? Kenapa tidak sekalian bikin distribusi zine aja buat teman teman? Toh cuman tinggal memfotokopi aja kan? Dan selanjutnya pertanyaan pertanyaan yang lainnya pun mulai menumpuk dan pelan pelan embrio PePi pun mulai terbentuk secara perlahan namun pasti. Cieee! Sok mendramatisir banget ya!

Bulan Nopember 2002 PePi akhirnya menerbitkan katalog cetaknya yang pertama dengan koleksi yang dimilikinya waktu itu berkisar sekitar seratus judul dari berbagai bentuk media baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dan langkah awal yang kita lakukan saat kita mau mulai menjadi distributor zine adalah sebagai berikut:
(nggak mesti diikuti dan nggak perlu dihafal! Kan kamu bisa bikin cara kamu sendiri,Sayang!)

1. Mendata ulang semua media yang kita punya dan mengelompokannya dalam beberapa kelompok seperti zine, newsletter, pamflet, flier, buklet, komik dan buku serta bentuk-bentuk lainnya lagi.

2. Kemudian membuat master untuk setiap media tadi yang selanjutnya merupakan master distribusi, sehingga semua pemesanan media akan berasal dari master distribusi ini. Kita di PePi meletakkan master distribusi ini berdasarkan alfabet dan dalam kotak yang berbeda beda berdasarkan bentuk medianya untuk memudahkan kita dalam proses penyiapan pesanan.

3. Setelah itu kita kemudian langsung mulai membuat daftar media untuk katalog cetak yang memang dibuat sesingkat mungkin untuk menekan biaya memperbanyaknya agar semurah mungkin, ditambah antisipasi setiap bulan kita mesti menambah jumlah halamannya karena pertambahan jumlah medianya itu sendiri.

4. Masalah katalog cetak selesai, sekarang kita masuk ke bentuk-bentuk distribusi lapangan yang sejauh ini pernah kita lakukan adalah:
- Ngelapak di konser-konser underground (konser konser upperground mestinya dicoba juga sih!Hehehe!)
- Acara-acara yang menawarkan tempat untuk distribusi, baik acara amal maupun komersial. Selama kita tidak perlu keluar dana untuk sewa tempat, kita usahakan semua kesempatan yang ditawarkan kepada kita bisa kita terima.
- Perjalanan yang dilakukan oleh anak-anak PePi baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok. Selama perjalanan ini biasanya kita bertemu orang-orang baru, komunitas dan tempat nongkrong yang sebelumnya kita tidak pernah tahu akan keberadaannya.Nah, disinilah kesempatan kita untuk mengobrol dan memperkenalkan bentuk media serta meminta bantuan mereka untuk ikut mendistribusikan media media kita tadi. Seru lho!
- Mengirim beberapa media setiap bulannya ke kontak-kontak yang kita punya berupa distro, kolektif maupun individu untuk meminta bantuan mereka untuk memperbanyak lagi media media tadi di daerah mereka.
- PePi tidak menyukai penitipan medianya di distro-distro dengan sistem titip-jual karena dari pengalaman yang didapat selama ini media-media tadi akan diperlakukan sebagai layaknya barang yang layak jual atau tidak, sementara dengan kepercayaan bahwa setiap media adalah manusia yang ingin mengobrol dengan manusia lainnya…PePi akhirnya memutuskan lebih baik mengirimkan beberapa medianya ke distro dengan harapan mereka akan mengkopi dan mendistribusikan media-media tadi secara sukarela. (terlalu naïf ya kedengerannya! Bialin!Wek!)



5. Nah, sekarang harga! Harga setiap media di PePi diusahakan sudah mencakup biaya pengirimannya juga selain biaya fotokopi (walaupun akhir-akhir ini sudah semakin sulit dengan naiknya tariff TIKI…hiks!). Hal ini dilakukan untuk memudahkan pemesan sehingga mereka tidak perlu menghitung lagi biaya pengiriman pesanannya. Kita berusaha untuk tidak merugi ataupun mengeluarkan uang tambahan terlalu banyak untuk setiap pengiriman. Wlalaupun begitu PePi dengan senang hati membuka kesempatan trade media ataupun yang lainnya sebesar-besarnya kepada teman-teman yang ingin mendapatkan media-media yang ada di PePi, sehingga pertukaran media dan informasi serta hubungan pertemanan masih bisa dijalin tanpa mesti menomorsatukan uang.

6. Kita juga sadar bahwa katalog maya atau versi website penting untuk menjangkau lebih banyak lagi orang, karenanya kita
juga kemudian membuat katalog maya PePi yang kemudian dibagi lagi jadi Katalog Pendek, versi yang sama persis
dengan Katalog Cetaknya. Serta Katalog Panjang, yaitu katalog yang lebih komplit dalam menjelaskan isi dari setiap
media yang didistribusikan oleh PePi. Walaupun begitu PePi masih ingin bisa mengeluarkan Katalog Panjang Cetak-nya
secepatnya karena hal ini akan makin mempermudah dan memperjelas informasi tentang semua materi media yang
didistribusikan oleh PePi.

Sekedar informasi untuk mereka yang tidak canggih dengan dunia maya serta mau membuat katalog mudah dan gratisan
mungkin bisa mencoba membuatnya dalam blogspot seperti PePi. Klik ke www.blogger.com dan Boom! dalam beberapa
menit kamu sudah punya katalog media maya kamu sendiri! Coba deh! Guampaaaang kok!

7. Oh ya! PePi juga membuat flier dan poster yang disebarluaskan ke teman-teman dimana-mana agar makin banyak yang tahu mengenai PePi sehingga kalaupun mereka tidak mendistribusikan media medianya PePi, tapi PePi punya tambahan teman-teman baru! Hehehe! Caranya flier bisa dimasukkan dalam setiap pengiriman yang dilakukan, begitu pula poster untuk distro bisa diberikan saat berjalan-jalan dan sempat berkunjung ke distro setempat.

Terus jangan pernah membatasi diri kamu dengan sebutan Distributor Media ini tadi ya Sayang ya! Karena PePi pun pada kenyataanya kita selalu mencoba melakukan banyak sekali hal yang lebih dari sekedar mendistribusikan ataupun membuat media saja, karena kita percaya ‘semua alat adalah senjata kalau kita tahu cara memegangnya!’. Setuju?

Kayaknya udah ya, segini dulu ya…masih banyak lagi sebenarnya yang PePi sudah lakukan dengan kampanye kampanye yang dibuatnya namun lebih seru kalau kita bisa ngobrol langsung di waktu dan bentuk ngobrol lainnya. Okeh Rocker?






vicious - 6:07 AM

 
Arteverygay
Gue bukan gay, gue bukan seniman, dan gue bukan gay yang seniman. Gue adalah seseorang yang suka seni dan suka sama gay. Buat gue, ada yang istimewa tapi ada juga yang biasa saja dari dua hal yang gue suka ini. Toh sesuatu yang biasa biasa saja pun bisa jadi istimewa kalau kita tahu bagaimana memperlakukannya kan?

Karena, kalau boleh membandingkan antara gay dan seniman…buat gue jadi gay jauh lebih istimewa daripada jadi seniman. Soalnya gue percaya semua orang bisa aja jadi seniman, tapi nggak semua orang bisa jadi gay. Seni adalah milik semua orang dan bisa dilakukan semua orang, tapi gay? Nggak kan, Sayang!

Coba sekarang, pernah nggak mendengar orang bunuh diri gara gara nggak boleh jadi seniman sama orang tuanya? Gue sih belom pernah, kecuali orang yang bunuh diri supaya dibilang seniman! Hahaha! Tapi pasti ada deh orang yang bunuh diri karena orang tua atau lingkungannya membuang mereka saat mereka mengaku adalah seorang gay. Nah! Lihat bedanya kan sekarang?

Iya, gue tau semua itu pilihan (walaupun sayangnya jadi laki laki dan perempuan itu bukan pilihan, tapi semata keputusan Tuhan).Jadi gay, jadi seniman, jadi gay yang seniman, jadi ibu rumah tangga, jadi ibu rumah tangga sekaligus seniman, jadi ibu rumah tangga yang seniman dan gay, serta ‘jadi’ ‘jadi’ lainnya di hidup ini. Tapi pertanyaan gue adalah, sudahkah lingkungan kita jadi tempat yang lebar-lega-lucu untuk tumbuh kembangnya semua pilihan-pilihan tadi?

Itu dia makanya gay jadi salah satu topik dalam media gue. Sebuah media cetak-lay-out-tangan-fotokopian yang terbitnya nggak jelas, tapi lumayan jelas buat isi, ukuran, warna sampul, serta harga distribusinya. Hehehe! Namanya SETARAMata. Karena gue mencoba membagi sudut pandang gue untuk melihat segala sesuatu dengan lebih SETARA ke orang lain. Artinya, nggak cuma dari satu mata aja atau beberapa mata yang sudah pernah gue atau orang-orang lain lihat melaluinya. Sehingga, kalau mau memberi penilaian apapun akan sesuatu nggak langsung hajar aja seperti yang sering gue alami dan rasakan dari orang orang di sekitar gue. Gue juga pengen semoga makin banyak orang bisa menghargai perbedaan dan nggak semudah melihat salah benar sesederhana warna hitam putih aja. Hidup kan warna warni, manusia juga begitu...lalu kenapa semuanya mesti dibikin sama kalau perbedaan adalah yang bikin hidup adalah sebuah pengalaman yang penuh kejutan dan menyenangkan? Rayakan perbedaan yuk, Sayang!

Ditambah lagi gue juga ngerasa kalau gay di Indonesia, apalagi yang usianya masih muda (dan lagi heboh-hebohnya mengalami perang dalam diri mereka plus lingkungan sekitar mereka sendiri) nggak pernah cukup dapat dukungan plus tempat yang lebar-lega-lucu itu tadi untuk membantu mereka menemukan orientasi seksual mereka sendiri. Orang mereka yang orientasi seksualnya standar aja masih dapat pertentangan sana sini karena masalah status, agama dan lain sebagainya; apalagi yang beda, coba?!

Lucunya, sejak gue mulai bikin SETARAMata ini beberapa orang bener-bener dateng ke gue dan tanya apakah gue lesbian? Hahahaa! Ternyata, banyak orang masih percaya kalau kita membela atau percaya akan sesuatu berarti kita memang juga melakukan hal tersebut. Padahal kan kepedulian juga bisa berawal dari saat kita mencoba memposisikan diri kita di orang lain untuk merasakan tekanan dan ketidakadilan yang mereka terima. Paling nggak itulah yang jadi modal awal buat gue melakukan sesuatu untuk temen-temen gay gue. Hal serupa juga pernah menimpa teman gue yang pro sama kaum gay sehingga dia pernah dibilang begini, ‘Kenapa kamu nggak kawin aja sama temen temen cowok kamu kalo kamu pro sama homoseksual?’ Hehehehe! Bodo banget kan opini yang dia terima itu!

Ada yang menyedihkan disitu, sekaligus bikin gue sekaligus sadar kalau usaha untuk membuat sebuah lingkungan yang lebar-lega-lucu buat temen-temen gay gue masih panjang jalannya, masih banyak yang mesti dilakukan supaya lingkungan ini akhirnya bisa bener-bener tercipta suatu hari nanti. Lagipula, kenapa cuma bisa bilang ‘Iya, gue peduli sama gay’ kalau sebenarnya kita tahu ada lebih banyak cara dan butuh lebih banyak usaha untuk menunjukkan kepedulian kita? Mau nyoba dari sekarang nggak, Sayang?

Sejauh ini beberapa temen lesbian yang memang menggunakan media gue buat tempat mereka curhat ataupun sekedar berbagi opini tentang pilihan mereka jadi lesbian atau biseksual sekalipun. Dan umumnya mereka berusia dibawah 25 tahun serta cukup diterima di lingkungan mereka yang dinamakan Dunia Bawah Tanah atau underground. Sedangkan gue sendiri masih berusaha menyebarkan media gue ke sebanyak-banyaknya orang, karena gue percaya hal-hal yang gue bicarakan di media gue adalah hal-hal yang juga dibicarakan oleh orang lainnya di luar sana. Saat mereka membaca media gue, mereka bisa aja terkejut, mengangguk, terpana, atau lalu bertanya-tanya...namun apapun itu reaksi mereka, setidaknya mereka sudah melihat melalui satu mata lagi mengenai semua topik di media gue termasuk gay, yaitu lewat mata gue dan temen temen gue di dalam SETARAMata.

Sedangkan untuk sesuatu yang bernama Seni itu sendiri, saat temen-temen gue yang lesbian menuliskan atau mengekspresikan diri mereka baik dalam bentuk tulisan, puisi, gambar ataupun lainnya…merekalah seniman seniman favorit gue! Merekalah yang dengan jujur dan berani menunjukkan kalau mereka hidup, berbeda dan tak mau hanya menjadi penonton saja dalam usaha untuk menciptakan sebuah lingkungan lebar-lega-lucu untuk diri mereka sendiri juga orang-orang yang serupa dengan mereka.

Ngerti kan sekarang maksud gue dengan Arteverygay? Yup! Semua gay bisa jadi seniman, seniman bisa aja gay, dan yang paling penting, semua orang bisa jadi seniman dan mendukung gay!

Toh, seni bisa aja jadi senjata, kalau kita tahu bagaimana menggunakannya. Iya kan? (Ciieee! Bukan, gue bukan seniman! Kan gue udah bilang di awal tulisan ini tadi! Hehehehe!









vicious - 6:05 AM

 
LEM, GUNTING, KERTAS DAN PINSIL
Cuma itu modal bikin zine setahu saya, dan rasanya nggak butuh lebih dari itu kecuali tambahan sejuta niatan dan sedikit uang untuk fotokopi.

Zine adalah non-komersial, non-profesional, majalah bersirkulasi kecil yang oleh pembuatnya dibuat, dicetak dan didistribusikan sendiri. Dibentuk oleh sejarah panjang media alternatif di Amerika, zine sebagai sebuah bentuk media lahir di tahun 1930-an. Pada waktu itu para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, melalui perkumpulan-perkumpulan yang mereka buat mulai membuat media yang mereka sebut fanzine sebagai cara untuk berbagi cerita-cerita fiksi ilmiah, opini serta berkomunikasi diantara mereka. Empat puluh tahun kemudian di pertengahan tahun 1970-an, pengaruh yang besar pada zine terjadi saat para fans musik punk rock dimana mereka jelas jelas tidak menghiraukan media media musik mainstream dengan mulai membuat zine tentang musik dan kultur mereka tersebut.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini. (Memang pada kenyataannya sekarang ada juga yang dinamakan e-zine atau elektronik zine, namun disini saya mau bicara tentang zine cetak aja ya Sayang ya!)

Tipikal isi zine diawali dengan personal editorial, kemudian artikel-artikel curhatan, kritik, opini, serta ulasan-ulasan mulai dari zine, buku, musik dan lain sebagainya. Diantara halaman-halamannya terdapat puisi, cerpen, potongan-potongan berita dari media massa plus komentar tentang berita tersebut, juga ilustrasi dan komik. Editor merupakan kontributor terbesar dari zinenya, namun dia biasanya juga akan mendapatkannya dari teman atau sesama pembuat zine lainnya. Cara yang lebih umum membuka penawaran untuk berkontribusi di dalam zinenya tadi. Isi juga bisa merupakan bajakan atau ‘pinjaman’ dari zine lainnya atau media mainstream sekalipun, bahkan terkadang diambil begitu saja tanpa ijin penulisnya. Dicetak diatas mesin fotokopi standar, direkatkan ditengah-tengah atau di pinggirnya, jumlah halamannya berkisar antara sepuluh hingga empat puluh halaman. Zine memang terlihat jadi seperti berada diantara surat personal dan majalah. Ada zine yang dicetak dalam jumlah besar seperti Slug & Lettuce, ada juga yang memiliki begitu banyak kontributor dan halaman seperti Maximum Rock’n Roll, namun zine kebanyakan memang dibuat dengan semangat Do It Yourself apapun bentuk dan isinya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Namun saya sendiri selalu menyukai bentuk-bentuk media yang diluar dari bentuk media yang sudah ada, termasuk zine itu sendiri. Semakin berbeda sebuah zine, maka akan semakin menarik buat saya, karena akan terlihat perayaan kebebasan berekspresi dalam zine tadi semakin maksimal tak hanya dalam topik dan disainnya, namun juga bentuk luarnya. Makin banyak juga kejutan dan makin inspiratif jadinya. Sayangnya lagi, disini masih terlalu banyak yang menggunakan ukuran standar A5 sebagai bentuk zinenya, dan masih terlalu sedikit yang mau bereksperimen dengan bentuk-bentuk lainnya. Bikin yang bentuknya misalnya siluet binatang atau logo lucu juga kayaknya ya? Heheeh!

Fanzines adalah kategori tertua dari zine sehingga mungkin saja banyak orang yang menganggap semua zine adalah fanzines. Secara sederhana fanzine adalah publikasi atau media untuk mendiskusikan nuansa berbagai macam kultur dalam sebuah media. Beberapa pengelompokan dalam fanzine ini adalah:

Zine fiksi ilmiah, musik,olahraga, televisi dan film,serta yang lainnya lagi diluar pengelompokan tadi.

Sedangkan zine politis lalu dibagi lagi dengan P besar dan P kecil, dimana di dalamnya terdapat personal zine personal atau perzine, zine scene, zine network, zine kultur horror dan luar angkasa, zine agama dan kepercayaan, zine seks, zine kesehatan, zine perjalanan, zine sastra, zine seni, serta banyak lagi pengelompokan zine yang lainnya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sementara buat saya sendiri pengkategorian zine seperti itu memang perlu untuk menjelaskan tentang isi sebuah zine, namun sama sekali tak perlu untuk para pembuat zine itu sendiri. Karena pada akhirnya kebebasan yang dirayakan dalam bentuk media seperti ini malah menciptakan sebuah batasan-batasan tak perlu. Sayangnya, disini zine-zine yang saya temui masih terlalu banyak yang berkisar pada tema yang itu itu saja! Musik, punk, politik, scene serta komik, sehingga belum banyak hal yang bisa dikomunikasikan oleh para pembuat, juga untuk para pembaca zine itu sendiri. Kenapa nggak membuat zine tentang mimpi misalnya, atau tentang tato, tentang emblem, tentang anak-anak, tentang tanaman, tentang menjahit, tentang obat, tentang zine itu sendiri mungkin, serta masih ada puluhan topik lainnya yang belum disentuh hingga saat ini. Iya kan?

Orang orang aneh, kutu buku, kuper serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungannya adalah karakter orang-orang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang menyedihkan serta membuat segala hal tentang diri mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang lewat zine-zine mereka. Karenanya zine pertama kali ada diantara para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, dimana mereka memiliki kepandaian diatas rata-rata namun kemampuan untuk bersosialisasinya dibawah rata rata. Seperti halnya juga zine Punk yang pertama kali diterbitkan oleh Legs McNeill, yang di dalam zinenya menjelaskan Punk sebagai ‘apa yang sering dikatakan oleh guru-guru kita dari dulu…kalau kita tidak pernah cukup berharga untuk apapun di hidup ini’.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Dan disini walaupun memang awalnya adalah komunitas Dunia Bawah Tanah atau underground yang membuat media ini masuk ke dalam komunitas lainnya, sayangnya karena keterbatasan topik serta distribusi yang belum besar membuat zine seolah menjadi sebuah media eksklusif yang menuntut kualifikasi-kualifikasi tertentu untuk membuatnya. Padahal zine tidak pernah memiliki sebuah cara baku untuk membuatnya, isinya, apalagi pembuatnya. Semua orang bisa membuat zine karena zine adalah tentang semua orang. Punk bukan punk, anak underground atau bukan, anak kecil atau orang tua sekalipun, sendirian maupun beramai-ramai, zine bahkan tidak pernah menuntut pembuatnya untuk menjadi dirinya sendiri! Seseorang bisa saja menjadi seorang anak kecil, seorang perempuan Jepang, seekor anak beruang, bahkan sebuah topi di dalam zinenya tanpa seorangpun berhak menilainya penipu ataupun aneh, karena zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media cetak yang tak berbatas. Betul nggak?

Zine dinilai seharga biaya pos hingga beberapa dollar saja, namun barter atau saling bertukar zine adalah umum dilakukan dan merupakan bagian dari aturan yang sudah diketahui sesama para pembuat zine. Distribusi umumnya dilakukan dari satu orang ke orang lainnya melalui pos, dijual di toko-toko buku dan musik, dibagikan atau barter di konser-konser punk, pertemuan para penggila fiksi fiksi ilmiah dan sejenisnya.Mereka diiklankan melalui mulut-ke-mulut, melalui kolom ulasan zine di dalam zine lainnya, serta zine zine yang membahas mengenai zine itu sendiri seperti Factsheet Five, yang bertujuan memang untuk mengulas serta mempublikasi media media seperti ini.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Karenanya saya tidak pernah menyukai peletakkan zine di distro dalam arti dilihat sebagai produk, karena saya percaya zine adalah sesosok manusia dalam sebuah bentuk media cetak yang ingin sekali berkomunikasi dengan sebanyak-banyak orang di luar sana. Di dalam sebuah zine, khususnya zine-zine personal, akan terasa sekali istimewanya komunikasi serta pesan-pesan personal yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya walaupun dalam bentuk tulisan saduran sekalipun serta cara mendisain yang mungkin secara umum mirip. Walaupun memang distro bisa jadi salah satu tempat distribusi, namun rasanya sedih juga melihat jajaran zine-zine yang berdebu di dalam sebuah distro seolah melihat seseorang atau sekumpulan orang yang berteriak-teriak ingin mengobrol tapi tak kunjung ada seorangpun yang mau mengajak mereka bicara. Ciee! Emosional banget ya? Hehehe! Tapi coba kita dengar apa kata Mike Gunderloy dari zine Fachsheet Five tentang zine,

Zine dibuat bukan untuk uang, namun untuk Cinta. Cinta untuk berekspresi, cinta untuk berbagi, cinta untuk berkomunikasi. Dan sebagai salah satu bentuk protes terhadap sebuah budaya dan lingkungan yang menawarkan terlalu sedikit penghargaan atas hal-hal tadi, zine juga dibuat dari sebuah…Kemarahan!

So, kapan nih saya bisa liat zine kamu? Barter yuk!














































vicious - 6:04 AM


Friday, May 9

 
Saya mestinya tutup mulut! sayangnya Hati saya tidak mau tahu…
’Itu urusan Otak kamu!’ begitu katanya.
Bagaimana kamu mau menulis tentang ‘Jangan Minum Susu’ kalau kamu sendiri masih minum kopi susu setiap hari?
Bagaimana kamu mau menulis tentang kesetaraan kalau kamu sendiri masih mempekerjakan pembantu di rumah kamu?
Bagaimana kamu mau menulis tentang iklan dan efeknya yang membuat orang konsumtif kalau kamu sendiri masih menghabiskan begitu banyak uang untuk belanja berbagai macam barang tidak penting itu?
Bagaimana kamu mau menulis tentang perlakuan manusiawi pada binatang kalau di rumah kamu sendiri kamu masih memelihara ikan hias?
Bagaimana kamu mau menulis tentang Dunia Bawah Tanah kalau kamu hanyalah seorang dari Dunia Atas Tanah?

Hehehehe! Kasihan Otak saya, dia mesti menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tadi sementara Hati saya hanya cengengesan tak peduli dari tempatnya. Inilah perang yang setiap detik dalam hidup saya tak kunjung selesai apalagi berhenti, bahkan bila saya tertidur sekalipun! (Mungkin itu juga penyebab saya kena insomnia kadang kadang…)
Hati saya menang kali ini, karena dia dengan cueknya memutuskan membuat semua tulisan tulisan tadi untuk menunjukkan proses yang saya capai sejauh ini memang baru sampai disitu, walaupun Otak saya bolak balik mengingatkan dengan nada halus hingga kasar dan berisik sekalipun betapa tololnya saya terlihat dalam tulisan-tulisan tadi! Hehehe!
Mau tahu nggak kata kata Otak saya kalau sedang berantem sama Hati saya? Kayak begini ini…
‘Taela! Ngapain sih nulis nulis begituan? Semua orang juga udah tahu lagi!’
‘Cieee! Mau dibilang pinter? Politis? Alah! Udahlah jangan jadi pembohong!’
‘Nulis artikel itu mbok ya jangan subyektif terus! Sekali sekali obyektif kenapa?’
‘Kamu siapa sih nulis nulis begituan? Ngerasainnya aja kamu belum pernah!’
Saya tidak pernah ingin membela salah satu dari mereka. Saya hanya menuruti sang pemenang, yang lebih sering juga berganti ganti. Kadang Hati, kadang Otak. Bahkan pernah keduanya kalah! Hehehehe!

Saya tidak pernah merasa benar dan saya juga tidak pernah merasa salah. Saya berdiri diatas opini saya sendiri sebagai hasil dari peperangan tadi. Apa yang saya katakan detik ini, besok mungkin saya rubah lagi atau bahkan tidak ingat sama sekali. Pelupa? Bisa, namun yang lebih tepatnya pemenang perang antara Hati dan Otak saya sudah berganti lagi, Kawan! Eits, saya juga bisa jadi seorang pembohong yang lihai lho!..makanya saya juga mesti pintar untuk mencari kesalahan Otak dan Hati kalian kalau kalian meragukan saya. Ha!

Saat Hati saya menginginkan sesuatu dan Otak saya menentangnya (seperti menulis artikel nggak jelas ini) saya bersyukur sekali kalau saya masih punya nyali. Dan nyali datangnya dari Hati, bukan dari Otak. Iya kan? Karena kalau saya memikirkan (berarti pake Otak kan?) apa yang akan dikatakan orang tentang tulisan ini pasti saya sudah mengubur dalam-dalam keinginan saya ini. Buat apa membuka ketololan diri sendiri dengan mengakui betapa tidak tahu apa apanya saya tentang apa yang saya tulis selain menuruti kata Hati saya saja saat ini?

Saya jadi ingat waktu pertama kali saya menulis! Waktu itu juga modalnya cuma keinginan. Saya ingin menumpahkan apa yang saya pikirkan tentang banyak hal di hidup saya, saya ingin belajar membuat media saya sendiri, saya ingin bisa mengobrol dengan lebih banyak lagi orang yang tidak mengetahui apapun tentang saya sebelumnya. Keinginan-keinginan itu tidak pernah berubah sampai sekarang, bahkan saat semakin banyak orang menyangka saya punya berbagai macam alasan dibalik segala macam hal yang saya lakukan sekarang…saya cuma ingin menuruti Hati saya saja.Titik.

Saya terdengar terlalu naïf? Mungkin, tapi bukankah saat manusia ditekan pun dia pasti akan mencari jalan keluar dari tekanan itu? Bukankah saat manusia diperlakukan tidak adil dia akan menuntut perlakuan yang lebih baik? Bukankah saat manusia dipenjara dia akan berusaha keras mencari jalan keluar walaupun hanya sebuah lubang kecil saja? Karena kita manusia, semua itu akan terjadi dengan sendirinya. Karena setiap manusia pasti punya proses sendiri-sendiri dalam hidupnya untuk menemukan berbagai jawaban yang muncul dari dalam dirinya tentang apapun, termasuk dirinya sendiri. Tanpa ataupun dengan campur tangan orang lain termasuk Tuhan, tumbuhan dan binatang yang ada di sekitarnya. Yang penting buat saya, saya mesti terus melangkah untuk mencari jawaban-jawaban tadi…jangan pernah berhenti, biarpun semakin banyak yang mempertanyakan semua yang saya lakukan, mencurigainya, melecehkannya, bahkan memujinya. Saya hanya ingin terus berjalan hingga saya tidak lagi bisa berjalan. Ini cara saya hidup, Kawan!

Saya jadi ingat kawan-kawan saya yang menyuruh saya untuk tetap berjalan, untuk tidak mempedulikan orang orang yang tidak menyukai saya, untuk mempertanyakan dan mengkritik begitu banyak hal yang saya lakukan, saya berterimakasih sekali…sayangnya hidup saya bukan untuk kalian semua. Tapi untuk diri saya sendiri, saat semua pertanyaan-pertanyaan di Otak dan Hati saya butuh jawaban yang berbeda beda sekalipun, tapi saya menikmati semuanya. Termasuk perubahan-perubahannya yang menjengkelkan dan membingungkan itu! Hahaha!

Untuk kawan-kawan saya lainnya yang juga sedang berjalan dan seringkali terantuk duri dan batu bahkan tidak hanya dari dalam diri kalian sendiri juga orang-orang di sekitar kalian..tetap berjalanlah, tetap berpeganganlah pada diri kalian atau orang-orang yang kalian percayai, toh pada akhirnya kalian sendiri yang merasakan semuanya...bukan saya, bukan mereka. Apalagi untuk kalian yang mesti berganti arah perjalanan kalian, semoga kalian masih bisa berbalik apabila kalian merasa jalan yang kalian tempuh sekarang bukan yang kalian inginkan. Toh kalian sendiri juga yang tahu dimana mesti berhenti dulu sebelum berjalan lagi…selamat berjalan, Kawan kawan!

Saya bukan menulis artikel ini untuk kalian semua, saya menulis artikel ini untuk diri saya sendiri karena akhir-akhir ini saya merasa begitu banyak yang mengancam nyali saya untuk dapat meneruskan perjalanan saya yang entah kapan berakhir ini..Iya, saya tidak mau jadi pembohong hanya karena banyaknya tekanan dan tuntutan yang saya terima dari lingkungan sekitar dan diri saya sendiri untuk melakukan banyak hal di kehidupan saya!

Jadi, kalau tadi malam saya bisa jujur, kenapa pagi ini tidak? Nama saya Ika Vantiani.

vicious - 1:25 AM

 
POLITIK PERASAAN,MY ASS!
Bagaimana pendapat kamu tentang newsletter-ku?” tanyaku pada seorang teman.
“Yah….asik sih….cuman…apa ya?….Pokoknya asik lah!” jawab mulutnya.
“O ya? Dimana asiknya? Dimana nggak asiknya?” tanyaku lagi.
“Gue suka cara loe nulis disitu, topiknya...tapi kalo nggak asiknya? Apa yaa…
“Nggak kok, asik…asik….” Mulutnya bilang begitu. Wajahnya kelihatan bingung.

(Mungkin karena hatinya bilang),
“Newsletter kamu sucks! Isinya subyektif banget,terlalu feminis, nggak informatif!”

Ya udah, bilang aja begitu! Susah amat?! Kenapa? Nggak enak? Takut aku tersinggung? Takut aku nggak mau temenan lagi setelah itu? Merasa nggak cukup pintar untuk memberi kritik? Takut apalagi? Stop it. Itu ketakutan-ketakutan yang terlalu mengada-ada! Iya, aku tahu nggak semua orang gampang menerima kritik, nggak semua orang cukup berbesar hati untuk mengakui kesalahan atau kekurangannya...tapi, terus kenapa mesti dipelihara perilaku yang kayak begitu? Kapan kita akan menjadi individu-individu yang terbuka, berani dan independen kalau untuk sebuah komunikasi seperti ini saja kita masih berlindung di balik sesuatu yang namanya jaga perasaan atau kesopanan?!

Persetan sama Politik Perasaan kamu! Itu hanya jadi penghambat sebuah komunikasi jujur dan membangun buatku. Apa? Nggak setuju? Ngomong dong, jangan cuman cemberut gitu aja! Hahaha!

Seringkali aku malah jadi kesal saat teman-temanku berusaha setengah mati untuk mencari kata-kata yang bisa memperhalus atau mengurangi pedasnya kritikan mereka kepadaku. Soalnya malah jadi terdengar plin plan, bikin aku sendiri bingung, ‘kamu mau ngomong apa sih, teman?’ Nggak usahlah, kalau memang itu caci maki sekalipun….aku bisa kok menerimanya. Dan tidak, kalian nggak akan aku musuhi setelah itu, kita masih tetap berteman. Malahan aku akan makin menghargai kalian karena kalian mengerti betapa pentingnya sebuah obyektifitas dan kejujuran buat aku. Let’s be honest, let’s be friends! Tidak semua orang seperti aku? Memang, tapi aku percaya kita tahu mana batasannya yang memang sudah keterlaluan atau masih bisa ditolerir. Itu kembali ke kitanya juga,kan? Karena kita tahu kita berbicara dengan siapa. Politik Perasaan tetap perlu sesekali.

Aku juga bukannya nggak pernah sakit hati sama yang namanya kritik atau celaan, baik yang cuman diomongin di belakang maupun langsung dilontarkan ke depan mukaku….pernah kok. Tapi sekali lagi aku akan mengembalikan ke kejujuran itu tadi, karena kalau aku boleh memilih, aku memang lebih suka dicaci maki di depan mukaku daripada diomongin busuk di belakangku. Tapi sesakit sakit hatinya kamu, jaga jangan sampai itu mempengaruhi hubungan kamu dengan orang itu. Kamu bisa tahu kan saat itu semata opini membangun atau sekedar pengen bikin kamu sakit hati karena dia sirik atau nggak suka aja sama kamu. Iya-kan? Politik Perasaan lagi.

Sadar nggak kalau setiap hari, kita selalu berada dalam lingkungan yang menuntut kita untuk penuh dengan basa basi dan dalih dalih etika yang sangat memuakkan saking palsunya. Politik Perasaan terussss! Di rumah, sekolah, tempat nongkrong sampai sama pacar. Kata-kata seperti ‘Nggak enak sama dia, dia kan lebih tua.’ atau ‘Aduh, siapa lah saya ini? Sok sokan memberi kritik! Diakan yang paling hebat disini.’ Dan yang paling kesal sekaligus bikin geli adalah saat seorang cewek mesti bilang begini,”Sayang, kita kayaknya mendingan berteman aja deh…soalnya saya nggak mau pacaran dulu, masih mau mikirin sekolah!” Yeah, right! Hahaha! Gila, kurang basa basi apalagi itu? Bilang aja mau putus. Titik.

Seorang teman baik yang memiliki perasaan serupa denganku bilang bahwa mengkritik memang gampang, yang paling sulit adalah memberi alasan yang masuk akal untuk kritik itu atau solusi yang asik. Betul! Betul banget! Tapi itu adalah proses lanjutan dari berani beropini ini tadi menurutku. Karena kalau memang cuma ingin membuat sebuah debat atau argumen aja sih gampang. Cari aja yang kamu nggak suka mengenai hal tersebut? Selesai. Karena masalah sebenarnya akan kembali ke pengetahuan kita akan sesuatu yang kita yakini, kepercayaan diri kita dan keberanian kita untuk jujur itu tadi. Baru kita bisa kasi solusi atau kritik yang masuk akal. Ribet ya cara ngomongku? Memang. Hihihi!

Begini lho maksud aku, sekarang yang lebih banyak ku temui adalah mereka-mereka yang punya opini tapi nggak berani ngomong. Punya kiritik tapi nggak enak ngomongnya. Punya alasan tapi cuma sesimpel kayak, ‘soalnya aku nggak suka. Titik.’ Iya, anak umur 3 tahun juga bisa kalo ngomong begitu! Makanya mau nggak mulai sekarang pelan-pelan mau berusaha untuk mempunyai kritik atau opini yang beralasan. Paling nggak masuk akal buat diri kita sendiri. Iya, butuh proses, banyak baca, ngobrol sana sini, tapi kamu akan merasakan sendiri betapa berbeda rasanya untuk mampu mempunyai itu semua. Lakukan saja sendiri, nggak perlu tunggu siapa siapa buat memulainya. Percaya deh, semua pertanyaan yang dicari sendiri jawabannya jauh lebih berarti dan asik daripada cuma dengar sana sini dari orang lain.

Sekarang, berani nggak tanya sama semua orang-orang yang selama ini kamu yakini, hebat, pintar, radikal, senior atau apapunlah julukan kalian sama mereka itu…katakan kalau kalian nggak selamanya pikir mereka sehebat itu, aksi aksi mereka sucks, atau kritik-kritik jahat yang sudah kalian pendam selama ini dari mereka semua. Ayo, datangi dan katakan langsung di depan mereka! Lihat bagaimana mereka tidak se-tidak-ada-matinya seperti yang kamu kira selama ini. Jangan lupa siapkan alasan kritikan kamu ya, supaya nggak jadi tawuran nggak perlu. Hihihi!

Bukan, aku bukan mengajak perang semua orang. Aku juga percaya beberapa alasan paling standar sekalipun kalau jujur ya memang begitu adanya. Aku cuman ingin kita bisa lebih berani untuk jujur menyuarakan pendapat saat kesempatan-kesempatan seperti itu ada di depan kita. Lupakan semua norma-norma atau etika-etika yang dijejalkan ke kita dari kita kecil yang ternyata saat kita besar tidak membuat kita jadi pribadi yang lebih independen dan berani beropini. Jalankan Politik Perasaan kamu sejarang mungkin, teman. Bisa? Bisa dong, katanya punya otak?

What?! Feels like throwing a punch to my face? Good! You get the point then! Hahaha!
vicious - 1:22 AM

 
JANGAN BACA TULISAN INI!
(karena terlalu subyektif)

Kok tulisan kamu nggak ada bukti ilmiahnya ? Kok tulisan kamu nggak ada fakta sejarahnya? Kok tulisan kamu nggak ada opini orang lain mengenainya? Kok isinya opini kamu semua? Dan kenapa kenapa lainnya yang diajukan kepadaku sejak aku mulai menulis dan kemudian mencetak buletinku sendiri.

Fuck off.

Sekarang, kalau aku menulis yang aku ambil dari buku ini datanya, aku kutip dari situ isinya, aku contek dari kata kata si anu, terus buat apa aku menulis?! Bukankah lebih baik aku bikin daftar buku buku sama orang orang itu saja supaya kalian cari. Nah, terus buat apa dong aku menulis? (nggak peduli kalian yang baca ini adalah fanzine editor, web designer, bahkan penulis buku best seller sekalipun).

Aku percaya tulisan adalah salah satu bentuk ekspresi pribadi paling menyenangkan, kreatif dan jujur dari seorang manusia, kecuali kamu memang penipu yang mencari uang dengan tulisan, kayak pemalsu tanda tangan, misalnya. Disini aku berbicara sama kalian yang sebenarnya sudah lama ingin menulis, ingin tulisan kalian dimuat, bahkan ingin punya media tulisan kamu sendiri.

Pertama, tulis aja. Apapun itu. Lupakan tulisan-tulisan yang pernah kamu baca atau bahkan tulisan yang kamu akui paling bagus yang pernah kamu baca sekalipun. Pokoknya tulis dulu. Selesai? Nah, sekarang dibaca sekali lagi dari awal hingga tamat. Biasanya sih kita akan sadar kalau tulisan yang udah jungkir balik kita tulis itu ternyata sama persis seperti cara berbicara kita. Akibatnya, bahasanya memang campur aduk. Bikin kamu ketawa-tawa atau jidat kamu berkerut? Hehehe! Biasa itu, teman!

Kalau aku tanya, apa alasan kamu menulis? Alasan aku menulis adalah aku ingin berbicara dengan bentuk berbeda atau menggunakan bahasa berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Aku percaya tulisan dan bahasa lisan punya tantangan dan keistimewaan sendiri-sendiri, makanya banyak orang yang katanya pendiam tapi kalau sudah menulis jadinya bagus sekali. Karena memang tulisan memberi kebebasan yang berbeda seperti kalau kamu ngobrol di dunia fana dengan di dunia maya! (Ngerti-dong maksudnya? Hehehe!)

Nah, makanya biasanya yang aku lakukan setelah selesai membuat sebuah tulisan adalah mencoba membayangkan kalau aku orang lain yang membaca tulisanku tadi. Kira-kira dia mengerti nggak ya? Kira-kira kosa kata aku terlalu rumit atau asing nggak ya, buat dia? Memang nggak gampang, makanya yang paling asik kalau kamu bisa bertanya dan menunjukkan tulisan kamu ini ke orang-orang terdekat kamu buat mendapatkan opini awal. Sebelum seterusnya kamu sebar luaskan ke orang-orang yang lebih banyak di daerah lain misalnya. Kalo mereka bilang nggak ngerti, kamu mesti tanya, dimananya? Apa pesan keseluruhan yang mereka tangkap dari situ? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bukan berarti kamu mesti merombak total tulisan kamu dari awalnya tapi opini awal ini perlu buat kamu juga kalau mau bikin tulisan lainnya lagi. Begitu lho, teman sayang!

Lama kelamaan saat kamu makin sering menulis, secara nggak sadar kamu akan mulai punya gaya tulisan yang sama istimewanya dengan cara berbicara kamu! Nggak percaya? Coba aja! Nulis terus, tanya sana sini, banyak baca biar ide ide baru datang, coba gaya penulisan berbeda, termasuk bentuk-bentuk tulisan yang belum pernah kamu buat selama ini. Seru! Karena menulis itu memang candu kok! (tanya sama yang nicknya tank_boy atau BRAINWASHED di channel utopis, kalau nggak percaya! Hahaha!)

Setelah itu kenapa nggak mulai dipikirkan buat bikin media kamu sendiri? Apapun itu formatnya ya! Mau fanzine, buletin, pamflet, komik, atau portal sekalipun. Lupakan topik-topik standar yang sedang trend maupun jadi perdebatan di dunia bawah tanah apalagi mainstream. Nggak ada kok yang bilang fanzine (misalnya) mesti tentang musik, politik, seni, atau fesyen. Media kamu itu bisa tentang diri kamu sendiri, pornografi, cinta, tips, binatang, mimpi, atau apapun yang ingin kamu bagi dengan orang lain selama kamu percaya mereka akan tertarik dengan itu. Kalau tidak? Toh kamu sudah membuat sesuatu tentang diri kamu dalam format berbeda kan? Asik! Feel proud of your own achievement, dear.Amazed yourself.

Sekarang tentang distribusi media kamu tadi. Kalau boleh memberi saran, nggak ada yang lebih asik dari melakukannya sendiri juga. Bahkan sebelum kamu menitipkan sama teman kamu misalnya, atau distro sekalipun. Kenapa? Supaya kamu bisa merasakan nikmatnya berjalan keliling menaruh media kamu di tempat tadi, melakukan tawar menawar harga bila perlu, atau bahkan saat kamu sendirian dan mesti menawarkannnya ke orang-orang sambil bercerita apa saja isinya, sekaligus melihat ekspresi dan tanggapan mereka. Rasakan lebarnya senyum kamu saat mereka akhirnya tertarik untuk membelinya. (kalau mau bikin gratisan bisa juga, walaupun aku tetap percaya semua jerih payah itu ada nilainya!)

Subyektif banget kan tulisan ini? Yup, tulisan ini memang sangat subyektif karena semuanya ini berdasarkan pengalamanku sendiri, tanpa kutipan, tanpa bukti ilmiah, otentik ataupun syarat-syarat sebuah tulisan berbobot lainnya itu. Karena aku memang cuma ingin mengajak kamu untuk menemukan media berkomunikasi kamu sendiri,buat sebanyak-banyaknya formatnya, tulis sebanyak mungkin topik, biarkan semua kecerewetan kamu keluar dalam bentuk yang senyap diam namun mengesankan ini,teman.

-Dedicated to myself, one hell of a subjective writer-
vicious - 1:15 AM

 
IKLAN TIDAK SELALU TERLIHAT SEPERTI IKLAN,SAYANG!
Kalau kamu melihat sebuah iklan televisi, pernah nggak kamu merasa serasa seperti menonton potongan film dari keseharian kamu sendiri? Begitu mirip hingga kamu takjub dengan cara mereka menangkap kebiasaaan, karakter orang-orangnya, hingga kamu sempat terkejut saat di akhir film iklan ini ada slogan sebuah produk yang menutupnya. Ooh, ternyata iklan! Pernah? Atau misalnya saat kamu lagi naik mobil tiba-tiba ada iklan radio yang persis sama merekam potongan sebuah kejadian sehari-hari begitu bagusnya hingga emosi kamu bisa langsung merasakan kejadian tersebut tanpa perlu melihat langsung dengan mata kamu sendiri. Kamu bisa tertawa, jengkel, sedih hingga tersenyum. Nah, itu namanya craftmanship iklan-nya bagus.

Craftmanship adalah teknik memoles, membentuk serta mengemas sebuah iklan agar nampak begitu natural sebagaimana aslinya. Craftmanship umumnya paling mudah kita lihat di iklan-iklan yang memang mengangkat latar belakang atau kejadian di kehidupan sehari-hari. Semakin mirip iklan tersebut dengan kejadian aslinya, semakin hebat pembuatnya, dan semakin sulitlah kamu keluar dari pengaruh iklan ini. Setuju?

Oke, sekarang kalau kamu tanya sama orang tua atau saudara-saudara kamu di rumah tentang iklan favorit mereka, jawaban mereka apa? Yang paling lucu? Yang paling bagus musiknya? Yang paling asik ceritanya? Yang paling keren gaya filmnya? Yang mana? Tapi umumnya pasti setuju kalau mereka semua menyukai iklan yang begitu tepat menggambarkan perasaan mereka, hingga mereka bisa melihat produk tersebut sebagai kebutuhan yang masuk akal, dan bukan lagi barang pelengkap yang memupuk nafsu konsumerisme mereka. Iya-kan?

Tahukah kamu kalau pembuatan sebuah kampanye iklan dibuat berdasarkan sebuah proses riset yang mahal dan detail dari keadaan masyarakat, khususnya target pasar produk tersebut? Setiap bulannya berbagai metode riset diadakan untuk mendapatkan masukan-masukan dan fakta-fakta terakhir tentang keadaan masyarakat, termasuk besar jumlah uang belanja bulanan,berapa kali rekreasi keluarga diadakan setiap bulanannya, bahkan cara berbicara, kebiasaan menonton televisi serta mendengarkan radio mereka setiap harinya. Bisa! Semua ini bisa didapatkan dengan mudahnya dari biro-biro riset afiliasi dari luar negeri itu. Ada uang, ada barang. Ha!

Nah, semua data dan fakta inilah yang menjadi dasar craftmanship sebuah iklan agar terlihat begitu natural hingga secara tak sadar kamu atau aku mempercayai bahwa produk itu memang sesuatu yang sudah semestinya mulai menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Gocha! Kamu pun terpengaruh untuk mulai lirik sana lirik sini begitu ke mal. Mulai buka buka majalah dan ngobrol tanya kanan kiri cari obral atau potongan harga. Barangkali aja produk itu jadi lebih murah harganya.Pokoknya perlu banget deh buat punya produk itu! Hehehee!

Sekali lagi, itu hanyalah iklan, sayang. Iklan. Supaya kamu membeli produk itu dan jadi seperti itu, supaya ibu kamu bisa dibicarakan sama tetangga-tetangga di komplek rumahnya, supaya adik kamu tidak dikucilkan oleh teman-teman di sekolahnya. Dan macam-macam kepercayaan yang bisa dibuat oleh tehnik craftmanship ini tadi kepada para penontonnya yang notabene memang bukan orang iklan (seperti aku) serta semata akan jadi korban saja. Nggak mau-kan?

Disini, aku hanya ingin berbagi, hingga kamu bisa lebih berhati-hati saat mulai tertakjub-takjub dengan lihainya sebuah perusahaan dalam mengiklankan berbagai produknya. Jangan langsung ke supermarket begitu merasa Wah, bener juga sih! Tau aja! begitu sebuah slogan iklan kamu baca atau dengar di radio. Jangan buru-buru ingin membelikan pacar kamu sesuatu yang kamu percaya akan membuatnya makin cakep hanya karena model iklan itu gayanya asik banget menurut kamu. Itu cuman iklan, sayang.Sekali lagi, iklan. Pikir dua kali sebelum membeli hari gini. Ngerti-kan?

Dan kembali ke craftmanship maupun tehnik-tehnik pembuatan iklan yang lainnya, aku sebagai pembuat naskah iklan cuma ingin kamu, kalian, juga mestinya diriku sendiri, untuk tetap melihatnya semata sebagai taktik dagang kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Nggak ada tujuan lainnya kok, bahkan saat bagiku itu semata sebagai tempat pelampiasan ide ide kreatifku yang nggak ada habisnya ini. Aku tetap tidak akan membiarkan mereka seenaknya melakukan cara-cara untuk memanipulasi kamu, aku, juga teman-teman dan keluargaku bila aku masih bisa mencegahnya. Selama aku masih berada di dalam jalur komunikasi mereka yang penuh tipu daya itu.

Fuck advertising, fuck television, fuck image.
vicious - 1:12 AM

 
MEMEK!
teriak pengendara mobil itu kepadaku suatu siang di jalanan. KONTOL! Mestinya aku berteriak balik padanya. Sayangnya, dia sudah keburu hilang dengan debu dan asap mobilnya. Anjing!

Hey, jangan langsung melihatku dengan tampang seperti itu dong! Kamu kan nggak benar-benar melihat atau mendengar aku mengatakan semua kata kata itu.Kalian hanya MEMBACANYA! Wek! Hehehe!

Oke, sekarang kalau kamu misalnya betul-betul melihat seorang perempuan di jalanan berteriak seperti itu di depan kamu, gimana perasaan kamu ke dia? Gimana kamu mikir tentang cewek ini tadi? Kasar! Nggak pernah sekolahin pasti! Perek! Nggak sopan! Apa? Tolong isi disini __________________ Kalau aku bilang sih, cewek itu cuma jujur sama dirinya sendiri.Titik.

Jadi, hanya dengan sebuah lontaran kata makian saja kamu sudah bisa menarik kesimpulan tentang cewek itu? Hebat! Hebat sekali! Alangkah sok taunya juga kamu! Hihihi! Masak iya seorang dicap Perek cuma karena sebuah kata yang keluar dari mulutnya sekali itu saja? Atau hanya karena dia suka menggunakan kata kata Fuck dalam pembicaraannya misalnya, orang langsung melihatnya seolah dia perempuan ‘nggak bener’ atau maskulin. Get real, people!

Bahkan tidak semua pelacur pun suka memaki dan menggunakan kata kata seperti itu-kan? Ini kalau memang justifikasi yang kita gunakan adalah: perempuan yang suka menggunakan kata kata kotor berarti perempuan yang tidak sebersih perempuan lainnya. Rumit ya kalimatku? Tapi semoga tidak mempersulit kamu mengerti maksudku ya!

Eh, kenapa sih sekarang cewek yang suka melontarkan omongan kasar otomatis dibilang cewek inilah, itulah, yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan keperempuanannya? Dia toh tetap seorang perempuan walaupun dia melakukan operasi ganti kelamin sekalipun. Sementara kalau cowok yang melontarkan kata kata seperti itu dibilang wajar dan sebenarnya bahkan ada yang melihatnya sebagai menambah kejantanannya!. Hahaha! Dan banyak sekali contoh lain yang karena memang sudah biasa kita melakukannya hingga tidak lagi jadi pertanyaan apakah itu salah benar menurut kita sendiri. Aku juga sering melakukannya kok, makanya aku bisa menulis seperti ini.

Tapi kebiasaan seperti itu memang gampang sekali terjadi setiap hari di hidup kita karena cara kita berbicara dan berpendapat secara lisan memang sudah dikotak-kotakkan oleh lingkungan kita dari kecil. Hebatnya, kita bisa dan mau untuk selalu berusaha mengingat semua kotak-kotak itu setiap harinya sejak kita mulai belajar bicara hingga sebesar ini! Hehehe!

Padahal cara bicara sebenarnya adalah perasaan kita kan dalam bentuk kata kata, kalau begitu kenapa kita juga mesti menggunakan otak saat bicara? Karena kita memiliki banyak kotak kotak untuk cara berbicara itu tadi! Jadi, semuanya mesti pakai otak juga nggak cuman mengikuti kata hati! Iya kan?

Sekarang ingat ingat deh! Cara kamu bicara dengan orang tua, guru, lalu dengan kakak kamu, dan teman kamu.Semuanya berbeda kan? Kebanyakan seperti sudah ada ketentuannya kan?

PERATURAN UNTUK BERBICARA DENGAN YANG LEBIH TUA (ORTU, GURU,DSB):
1. Tidak boleh mengeluarkan kata kata kasar.
2. Tidak boleh menggunakan nada memerintah atau menantang/melawan.
3. Tidak boleh melihat lawan bicara, sebisa mungkin kurangi terjadinya kontak mata.

PERATURAN UNTUK BERBICARA DENGAN SEBAYA:
1. Boleh

PERATURAN UNTUK BERBICARA DENGAN YANG LEBIH MUDA:
1. Boleh menggunakan nada memerintah atau melawan
2. Boleh mendengarkan separuh masuk kuping kanan keluar kuping kiri
3. Boleh dijawab boleh tidak

Seperti diatas ini bukan kotak kotak peraturan cara kita berbicara dengan orang orang di sekitar kita setiap hari? Ini yang aku rasakan ya! Mungkin kamu punya peraturan berbeda? Apa saja? Nyaman nggak kamu dengan semua kotak kotak itu? Tidak peduli karena memang sudah terbiasa? Tidak apa apa juga sih!

Nah, sadar nggak kalau semua itu berhubungan? Cara orang tua kita berbicara kepada kita tidak cuma mempengaruhi cara kita bicara pada anak kita nantinya, namun juga sebenarnya pada manusia lainnya yang ada di hidup kita. Cara sahabat kita bicara juga memberi pengaruh yang sama tanpa kita sadari, akibatnya? Ya kita menjadi orang-orang yang sudah diprogram untuk mempunyai cara bicara yang terkotak kotak tadi walaupun kita mungkin tidak menyukainya sebenarnya.

Contoh? Panggilan menggunakan Mbak atau Mas otomatis meletakkan kita di bawah orang itu, walaupun mungkin dia usianya ternyata lebih muda. Tapi bukan usia di sini masalahnya! Karena kalau hanya demi sesuatu bernama hormat atau menghargai saja, bukannya masih ada yang lebih masuk akal untuk menunjukkan itu dibandingkan sebuah panggilan seperti itu? Makanya aku suka risih kalau dipanggil Mbak, karena aku paling tidak suka diletakkan di atas seseorang yang bahkan belum tahu apapun tentangku, walaupun kalaupun dia tahu bukan lantas dia tidak tidak membuatku risih ya!

Yang paling buruk adalah saat kita kemudian mengalami masalah untuk bilang: TIDAK. Karena kata kata ini tiba-tiba menjadi beban yang lain lagi saat kita berbicara dengan mereka yang lebih tua, lebih tinggi posisinya maupun lebih berkuasa dari kita. Iya kan? Kita cenderung untuk lebih sering meng-iya-kan saja semua kata kata mereka bukan karena kita setuju atau mendengarkan kata kata mereka, tapi karena kita hanya merasa segan saja.

Aku percaya sih setiap orang pasti punya batasan berbeda beda untuk merasa tersinggung, terhina, tersudut juga tersanjung? Hahaha! Makanya mestinya bukan cara bicara kita kepada orang itu yang mestinya menunjukkan apakah kita hormat atau menghargainya sebagai manusia namun bagaimana kita bisa saling jujur dalam berkomunikasi secara nyaman jadi diri kita sendiri.

Jangan bilang Iya, kalau kamu tidak setuju dengan tulisan ini ya, Teman Sayang!

vicious - 1:08 AM

 
I hate my Mom!
(wish I was her!)

Supaya waktu aku datang ke dia minta dikursuskan menari Jawa, aku tidak perlu kecewa saat mendengar alasannya melarangku semata hanyalah karena pakaian menarinya yang separuh terbuka di dada. Aku ingin belajar menari, aku bukan minta ijin jadi penari telanjang. I wish I was my mom.Really.

Supaya waktu aku datang pergi dengan berbagai macam teman dengan umur yang berbeda pun, dia tidak perlu mengatakan supaya aku berhati hati bermain dengan teman yang lebih tua, seperti keluhannya saat teman-temanku dari SMA ternyata membosankannya. Aku berteman dengan siapa saja sesukaku, bukankah aku tidak pernah mengeluh dengan siapapun dia berteman? I wish I was my mom.Really.

Supaya waktu aku berganti-ganti gaya berpakaian, dia tidak mesti mencoba memberiku pilihan lainnya yang semata untuk menyenangkan hatinya dan membuatnya merasa aman melihat anak perempuannya berjalan ke luar rumah. Andai saja dia tahu aku bahkan pernah mengalami pelecehan seksual dengan pakaian yang sangat disukainya itu.I wish I was my mom,really.

Supaya waktu aku minta rambutku dipotong pendek, dia tidak perlu membawaku ke salon jam sembilan malam setelah mendengar rengekanku selama setahun lebih. Rambutku bisa tumbuh lagi, rambutku adalah milikku dan aku ingin mengambil sebuah keputusan atas diriku sendiri. Kali ini. Walaupun kemudian aku memang menyesalinya.I wish I was my mom, really.

Supaya waktu aku mesti mendengar semua kemarahannya jam satu pagi itu karena aku tidak pernah di rumah akhir pekan maupun pulang cepat dari kantor di hari biasapun, aku bisa bilang bukankah ini yang membuatnya bangga saat pertemuan keluarga? Anaknya yang tertua sudah mandiri dan cari uang sendiri padahal umurnya belum dua puluh.I wish I was my mom.Really.

Supaya waktu aku datang memperkenalkan teman-teman baruku yang notabene tidak terlihat -baik dan benar- baginya, dia tidak perlu langsung memvonis mereka pasti menggunakan obat-obatan. Andai saja dia tahu salah satu teman baikku yang disukainya sudah nyabu selama dua tahun persahabatan kita. I wish I was my momr.Really.

Supaya dia berhenti menghardik caraku duduk yang katanya -tidak perempuan- itu, sementara banyak sekali aku melihat perempuan dengan cara duduk yang -begitu perempuan- menurutnya, ternyata lelaki. Cara duduk bukanlah yang menjadikan perempuan berkurang atau bertambah keperempuanan-nya. I wish I was my mom.Really.

Supaya dia berhenti mencoba menentukkan dimana aku mesti bekerja dan mengerti kenapa aku melakukan banyak pekerjaan lainnya tanpa dibayar. Aku toh akan selalu berusaha membayar semua uang yang aku pinjam darinya walaupun dia tidak menagihnya sekalipun. Aku toh sudah mengerti artinya uang sejak dari bangku sekolah dasar. I wish I was my mom, really.

Supaya dia berhenti melarangku menjemput kekasihku semata karena dia lelaki dan aku perempuan. Akankah dia biarkan aku menjemput kekasihku bila kekasihku perempuan juga? I wish I was my mom.Really.

Supaya dia tidak perlu menunjukkan jalanku menuju Tuhan, karena itu sangatlah pribadi bahkan saat dia menemukan jalannya pun aku tidak pernah berkata apa apa yang menyatakan aku iri dengan itu.Aku percaya semua manusia punya jalannya sendiri-sendiri. I wish I was my mom.Really.

Supaya dia berhenti menjadi juri untuk setiap kekasih yang ku perkenalkan padanya dan memutuskan apakah mereka cukup pantas untukku atau tidak. Aku yang berciuman dengan mereka, aku juga yang akan meniduri mereka suatu hari.Bahkan saat yang dilihatnya hanya seberapa mapan mereka. Buatku, kemapanan hati jauh lebih penting daripada kemapanan materi.I wish I was my mom.Really.

Supaya dia mau lebih berani mengakui dan menghadapi kenyataan betapa berbedanya kehidupan aku sekarang dan dia dulu. Supaya dia mau lebih mengerti usaha-usahaku untuk tetap hidup dan menjadi manusia yang aku inginkan, bukan yang dia inginkan. Aku adalah aku dan dia adalah dia, sejak lama,bukan cuma minggu lalu. I wish I was my mom.Really.

Supaya waktu aku membiarkan dia menyatakan semua opininya, dia juga mesti mau mendengar opiniku sebelum kita mencari jalan tengah. Tidak semuanya dalam hidupku bisa sejalan dengan caranya, bahkan caraku berbicara dan tertawa. Mari berbicara dan berpikir seperti dua orang manusia, bukan selalu anak dan orangtua semata. Shit, I wish I was my mom.Really.

Supaya dia bisa melihat betapa lelahnya selama ini mencoba untuk membahagiakannya namun seringkali mesti menipu diriku sendiri. Betapa sebenarnya apapun keputusan yang dia ambil dalam hidupnya aku tidak pernah ambil pusing, namun dia ingin selalu berperan dalam semua keputusan di hidupku. I really, really wish I was my mom,bahkan saat umurku sudah hampir tiga puluh tahun sekarang.

Sayang kamu, Bunda..:)

vicious - 12:55 AM

 
KITA: KONSUMEN YANG PLIN PLAN? (TERNYATA)
Suatu siang di sebuah tempat riset. Sekelompok ibu-ibu rumah tangga.
Sebuah produk sampo baru akan diluncurkan dengan keistimewaan tanpa pengunaan bahan kimia untuk membuat rambut lebih hitam dan berkilau. Dengan sebuah cerita film iklan dan demo sederhana, sampo baru ini bisa membuktikan bahwa produknya lebih aman daripada sampo lainnya karena tidak mengandung pewarna rambut kimia sama sekali. Hebat. Jujur, aku pun senang mengetahui bahwa ada sampo yang lebih alami akhirnya ada di pasaran sehingga konsumen punya satu lagi pilihan yang lebih aman. Namun saat ditanyakan pada ibu-ibu tersebut apa yang tidak disukai dari iklan sampo yang baru saja mereka lihat, jawaban mereka membuatku hampir saja terjatuh dari tempat dudukku.

Jangan menjelekkan produk lainnya seperti itu dong!
Kalau bisa tidak perlu diperlihatkan produk sampo lainnya, kasihan produk itu!

Hah?! Apa? Mereka mengasihani produk sampo yang mengandung pewarna kimia itu?! Sadarkah mereka akibat dari rasa belas kasihan mereka itu pada diri mereka sendiri sebagai konsumen yang mengeluarkan uang dan tubuhnya terkena bahan kimia tiap kali keramas? Ah, dasar masyarakat yang terlalu mengagung-agungkan etika!!

Di luar negeri, sebuah produk boleh mengkonfrontasi produk saingannya atau bahkan produk berbeda sekalipun untuk menjual produknya pada konsumen di iklan-iklan mereka. Lihat iklan Pepsi dan Coca Cola! Mereka begitu berani dan percaya diri dalam membandingkan produknya di iklan-iklannya karena mereka sadar hal tersebut adalah yang memang terjadi di pasaran. Iklan yang realistis. Toh pembeli setia mereka sepenuhnya sadar bahwa pilihan akan selalu kembali kepada mereka sendiri sebagai pemilik uang dan penikmat produk minuman tersebut. Salut. Perang yang adil demi kepuasan para pembeli mereka sendiri.

Sementara disini, etika selalu jadi seperti ujung pisau bermata dua di masyarakat kita tentang penilaian mereka pada iklan-iklan yang ada. Mereka bisa membuat sebuah iklan yang memperlihatkan seorang anak perempuan mengintip kolam renang tetangganya ditarik dari penayangannya, hanya karena mereka bilang iklan tersebut mengajarkan hal yang tidak baik pada anak-anak apalagi perempuan. Gila! Memangnya anak-anak saja yang suka mengintip? Bukankah semua orang memang suka mengintip, apalagi orang dewasa? Apakah mereka semua kemudian masuk penjara karena dituduh melanggar privasi orang lain? Ah, alangkah penuhnya penjara dengan para pengintip kalau memang seperti itu kejadiannya?!

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tampaknya memang menjalankan fungsinya dengan baik dan benar disini. Mereka memang bisa memprotes sebuah iklan yang dianggap menipu, memberi dampak tidak baik pada lingkungan dan masyarakat serta merugikan konsumen pada umumnya. Namun sekarang, bila sebuah iklan yang melecehkan perempuan dicaci maki tapi angka penjualan produknya naik gila-gilaan dalam waktu singkat, siapa yang jadi tertuduh disini? Konsumen dong! Bukan produsen, bukan juga pembuat iklannya semata.

Sering sekali (banget!) aku mendengar bahwa disini iklan selalu menjual gambar perempuan sebagai segumpalan paha dan dada montok saja, sehingga akibatnya terjadi pengeksploitasian perempuan sebagai bumbu penyedap iklan agar menarik bagi masyarakat sekaligus calon konsumennya. Sedangkan, efek internal bagi perempuannya sendiri adalah mereka menjadi tercuci otak bahwa perempuan sempurna adalah yang paha dan dadanya montok saja. Kalau tidak seperti itu, maka lelaki tidak akan tertarik. Betul begitu, bapak-bapak? Ibu-ibu dan remaja putri sekalian? Para penonton televisi dan konsumen yang budiman? Ah,alangkah bodohnya kita semua!

Sebagai pembuat iklan, aku percaya bahwa iklan yang baik adalah iklan yang realistis, jujur dan mampu mendidik serta memberi pengetahuan kepada masyarakat, khususnya konsumennya. Sayangnya, aku lebih sering bertengkar dengan klienku, si produsen pembuat iklan, bahwa iklan mereka semestinya tidak lagi menggunakan gambar-gambar paha dan dada montok karena masyarakat kita tidak sedungu itu! Sudah waktunya mereka melihat gambar yang berbeda sekaligus pesan yang disampaikan dengan lebih kreatif dan kaya informasi agar menjadi lebih pintar dari sekarang. Sayangnya, aku lebih sering kalah! Saat mereka menunjukkan hasil riset dan bagaimana iklan mereka yang sebelumnya juga menggunakan gambar dan pesan yang sama (paha dan dada montok dengan pesan seorang artis terkenal tentunya!) mencapai angka penjualan yang begitu memuaskan, aku tidak bisa bilang apa apa. Menyerah? Tidak, tapi sedih sekali!

Karenanya tiap kali aku diminta berbicara tentang periklanan, aku selalu meminta bantuan semua peserta diskusi untuk berhenti hanya jadi penuding dan pengkritik, tapi juga ikut membantu para pembuat iklan agar mampu menunjukkan pada kliennya kalau masyarakat kita sudah sangat muak dengan iklan-iklan dungu pengeksploitir perempuan, lelaki, anak-anak juga kehidupan kita sendiri sehari-hari. Jadilah konsumen yang kritis namun tidak sewenang-wenang hanya karena semata ini uang mereka, namun juga tuntut sesuatu yang lebih kreatif dan bermanfaat bagi mereka sendiri selain hanya dijadikan pembeli semata. Bisa? Semoga.

Dari kedua kasus iklan sampo dan iklan dada paha montok diatas pula, terlihat kalau masyarakat kita sendiri sebagai konsumen ternyata memang bermuka dua! Diberi iklan yang jelas-jelas demi kebaikan mereka sendiri, akan bilang iklan itu tidak sopan, sedangkan kalau dibuatkan sebuah iklan yang jelas-jelas tidak sopan, mereka akan kegirangan! Nah sekarang, kamu yang membaca artikel ini mau jadi konsumen yang mana? Pilihannya memang ada di kamu sendiri, bahkan kalau kamu tidak peduli dan tidak mau menjadi keduanya sekalipun.

Aku sendiri? Hanyalah seorang pembuat iklan yang selalu menggunakan diriku sendiri sebagai penentu produk yang aku beli setiap harinya.Bukan media, bukan merk, bukan citra yang aku dapat dari semua produk tersebut. Itu saja.

-Dedicated to all advertising practitioners with conciousness!-
vicious - 12:49 AM


Thursday, May 8

 
OUCH!
90% lelaki beranggapan memukul lelaki lainnya untuk membela diri adalah bisa diterima.
58% lelaki beranggapan memukul perempuan dalam situasi apapun tidak bisa diterima.

Aku nggak mengerti statistik dan tidak pernah percaya riset, tapi data diatas sungguhan membuatku memiliki pertanyaan-pertanyaan ini.

1.Kenapa cowok kalau bisa memenangkan perkelahian melawan cowok lainnya jadi merasa lebih gagah dan jantan setelahnya?
2.Kenapa kalau cowok berkelahi melawan cewek terus dia menang, dia tidak merasa jadi makin gagah dan jantan seperti dia menang dari cowok?
3.Kenapa cowok dibesarkan dengan wanti-wanti untuk tidak pernah boleh memukul cewek tapi boleh memukul cowok lainnya kalau terpaksa?
4.Kenapa ada anggapan kalau cowok berkelahi melawan cewek lalu dia kalah,
Dia merasa harga dirinya direndahkan dan egonya tergores?

Mari kita bicara dengan hal yang paling umum jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, yaitu perbedaan keadaan fisik cowok dan cewek. Cowok lebih kuat dari cewek, begitu? Tapi kalau ceweknya badannya lebih besar dan jago beladiri, bagaimana? Atau kalau cowoknya memang sedang sakit dan tubuhnya lemah, gimana? Atau? sudah, sudah! Tak perlu dibawa ke fakta lainnya dulu ya!

Kita bicara tentang fisik kan? Ada nggak manusia yang nggak merasa sakit kalau dipukul keras keras seperti dalam perkelahian? Tidak ada kan? Artinya, semua manusia akan merasa sakit kalau tubuhnya dipukul manusia lainnya (dengan atau tanpa alat). Setuju? Lalu mengapa pemukulan pun mesti mengenal jenis kelamin? Toh, semua cowok, cewek, besar , kecil, tua,muda akan merasa sakit kalau tubuh mereka dipukul. Iya-kan?

Senangnya saat mengetahui olahraga Tinju sudah memiliki jagoan-jagoan perempuan seperti olahraga lainnya yang sudah dimainkan oleh lelaki dan perempuan seperti Angkat Besi juga Binaraga. Tapi taruhan, cara kita memandang penampilan para atlet olahraga tersebut akan tetap berbeda pada lelaki dan perempuan. Iya-kan? Kita akan memandang penuh kagum pada para Binaragawan seperti Ade Rai, tapi kita tetap akan menatap ngeri pada para Binaragawati, sengetop apapun dia. Ngaku deh! Dan pandangan berbeda itu berlaku pada lelaki dan perempuan yang melihat para atlet itu. Kenapa ya?

Pernah ikut senam yang menggunakan angkat beban? Umumnya, perempuan akan ketakutan kalau ototnya kelihatan dan mengeras walaupun di luar negeri banyak artis perempuan terkenal yang rajin angkat beban dan badannya kelihatan lebih kekar daripada perempuan lainnya tapi tampaknya mereka percaya diri saja tuh! Betul, nggak? Pilih mana, badan kekar yang sehat atau badan lemah lembut tapi sakit sakitan? Jawabannya balik ke yang punya badan ya! Tapi kalau aku sih nggak dua duanya dulu sekarang! Hehehe!

Adik perempuanku selalu bilang dia tidak ingin kurus, tapi yang penting sehat. Aku setuju, setuju banget. Aku bisa membayangkan punya badan luar biasa sesuai dengan Kitab Bodi Yahud tapi sakit-sakitan. Bagaimana cara kita menikmati tubuh seperti itu kalau bangun dari tempat tidur juga jarang-jarang? Karena aku selalu percaya tubuh manusia akan menunjukkan tanda-tandanya sendiri bila dia sehat atau sakit tanpa tergantung dari bentuknya. Setuju kan? Pasti!

Balik lagi ke kasus pemukulan di atas tadi yuk! Sekarang kalau kita sering lihat anak kecil yang diajarkan orang tuanya untuk jangan memukul teman mainnya…perhatikan baik baik! Apakah dia menggunakan kata-kata seperti: Eh, nggak boleh mukul anak perempuan! Atau yang bilang begini: Lho! Temannya kok dipukul? Jangan dong, kan sakit! Nah, kelihatan kan mana orang tua yang dari kecil sudah mengajarkan anaknya untuk tidak memukul siapapun tanpa melihat jenis kelaminnya? Mau jadi orang tua yang mana? Orang tua kamu sendiri orang tua yang mana dari keduanya? Jawab sendiri lagi ya!

Kalau kamu bertanya pada penulis, anehnya,dia tidak bisa memukul keduanya. Sungguhan! Nggak perempuan, nggak lelaki. Tidak bisa. Sudah pernah dicoba bahkan ada yang mau mengajarkan secara cuma-cuma,semuanya ditolaknya. Kenapa? Karena memang dia tidak bisa saja melakukannya! Semarah atau setakut apapun dia! Kasihan ya? Hehehe! Eits, badannya tidak kecil dan pendek, serta pernah belajar karate dua tahun lebih lho! Dan dia tetap tidak bisa memukul orang sampe sekarang.

Tidak percaya? Tidak apa apa kok, dia juga tidak percaya kalau kamu mau bersusah payah menemuinya semata hanya untuk memukulnya keras keras cuma agar dia memukul kamu lagi.Kan kamu tahu dipukul itu sakit, iya kan? Jangan ya!

-Dedicated to those cowards and chicken shit outside, but having a brave heart inside-
vicious - 9:29 PM

 
SELL YOUR IDEAS FOR FREE!
Ide. Apa yang ada di otak kamu saat mendengar kata Ide itu tadi? Sebuah bola lampu yang bercahaya seperti di film-film kartun? Atau seseorang dengan telunjuk menunjuk ke atas sambil berkata, Aha! Dengan mata yang terbelalak gembira? Apapun itu, tetap tak satupun dari keduanya yang menggambarkan dengan tepat apa itu Ide. Melainkan hanya momen saat Ide itu diterima oleh manusia. Betul, kan?

Nggak, aku nggak akan mendefinisikan apa itu Ide. Tapi yang lebih penting buatku adalah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menjadi pencipta sebuah Ide bahkan saat dia bilang ke semua orang bahwa dia pemilik Ide tersebut. Kenapa? Karena memang bukan kita yang menciptakan Ide, namun menjadi penerima Ide tadi di kepala kita. Kita bahkan tidak bisa mengontrol saat datang dan perginya yang namanya Ide itu tadi, iya-kan? Coba, sekarang gambarkan sebuah bentuk untuk mendeskripsikan yang namanya Ide! Kalo bisa, kirim gambarnya atau apapun formatnya itu ke vicious.V@lycos.com sekarang juga! Ditunggu ya!

Dan ingat, nggak semua orang mau membuat Ide yang ada di kepalanya menjadi bentuk nyata! Ada yang memilih mendiamkannya saja hingga terlupakan, ada yang menceritakannya pada orang lain dan tetap tidak melakukan apa-apa mengenainya serta ada yang mencoba menjadikannya berbagai bentuk walaupun sulit dan kemudian gagal. Terserah. Cuma kamu yang tahu Ide yang ada di otak kamu, Sayang…makanya jangan pernah percaya juga dengan yang namanya Ide Orisinal! Beberapa orang bisa saja kok punya satu Ide yang sama, kenapa nggak? Karena itu kembali ke manusianya sendiri kan?

Nah, kalau yang mengaku sebagai pemilik Ide itu sendiri, bagaimana? Ah, kita dengan bangga mengaku sebagai pemilik Ide, biasanya kalau ternyata Ide tadi disukai banyak orang! Hehehe! Ngaku! Coba ada ide kita yang dibenci orang lain, dibilang jelek atau malah merusak, masih mau lantang kita bilang, Ide gue tuh! Belum tentu. Dan kenapa saat kita mengaku sebagai pemilik sebuah Ide, itu membuat kita jadi merasa punya kuasa untuk menggunakan Ide itu sesuka kita termasuk mencantumkan harga atasnya? Cuih! Coba dengar dulu pengakuanku di bawah ini:

Aku bekerja di bidang yang menjual Ide sebagai sumber uang yang tiada habisnya! Dulu, aku seringkali ngotot sama yang namanya kepemilikan Ide untuk tidak diambil atau ditiru orang lain. Karena mereka selalu bilang, Ide itu mahal harganya!

Di kantorku juga, aku dimasukkan ke dalam Departemen Kreatif. Artinya, aku orang yang bertugas untuk datang dengan berbagai macem Ide kreatif sesuai dengan kebutuhan klien atau kantorku itu tadi. Lalu, apa aku merasa menjadi sapi perahan disitu? Nggak juga! Kenapa? Karena itu tadi! Aku nggak merasa Ide-Ideku itu milikku, mereka saja yang merasa Ide-ideku berguna untuk kemudian membayarku dengan sejumlah uang dan segala fasilitas. padahal kenyataanya, aku hanyalah makhluk dengan dua tangan dan dua kaki serta sebuah otak yang menunggu datangnya Ide setiap hari, sambil chatting, browsing, telpon-telponan sama teman-teman sekaligus menulis tulisan-tulisan seperti ini! Hehehe! Apanya yang kreatif, coba? Dan mereka tetap tidak bisa mengontrol semua Ide di kepalaku untuk aku keluarkan bahkan bila itu untuk melawan mereka sekalipun! Iya-kan?

Sejak aku bikin newsletter sendiri, aku mulai mengerti yang namanya Anti Hak Cipta. Dan membiarkan semua orang mengkopi dan membagikan newsletterku pada orang lain tanpa sepengetahuanku sekalipun. Karena itu artinya, aku bisa semakin banyak mengobrol sama orang lain dan mendapat teman baru yang sebelumnya tidak pernah aku tahu. Jerih payahku menulis misalnya, sudah cukup terbayar, saat ada seseorang yang datang dan bertanya: Tulisan siapa ini? dan aku jawab, aku. Kejujuranku pada diriku sendiri sudah cukup untuk itu.

Aku juga tidak lagi menjaga atau menyeleksi semua Ide di kepalaku untuk apapun atau siapapun, termasuk pekerjaanku di kantor. Aku keluarkan saja sesukaku, aku bagi-bagi dan obrolkan dengan siapapun tanpa ketakutan mereka akan kemudian mengambilnya bahkan mengaku sebagai milik mereka sekalipun. Aku tidak lagi peduli! Aku melihat semua Ide yang ada di kepalaku sama nilainya, dan aku sudah cukup senang kalau ada satu dari Ide itu tadi yang disukai atau bermanfaat buat orang lain. Dan satu lagi, aku juga tidak peduli bila ada Ideku yang baru berlawanan dengan Ideku yang lama ya! So what?!

Sekali lagi, aku bukan pecipta ide. Aku hanya penerima. Eh, tapi jangan tanya ya Ide yang aku punya untuk diriku sendiri! Hihihi! Banyak banget, makanya kata orang aku bicaranya cepat sekali karena Ide-ide yang ada di kepalaku berebutan minta dikeluarkan! Hehehe!

Hey, aku juga percaya kalau ada satu-satunya yang boleh mengklaim dirinya sebagai pencipta Ide, itu adalah Tuhan. Ah, alangkah kreatifnya Tuhan kalau begitu ya! Dia bisa mengirimkan ribuan juta ide yang berbeda ke kepala setiap manusia setiap detiknya.Sayang Tuhan deh! Hahaha!

Anyway, aku selalu merasa menjadi diriku sendiri artinya juga saat aku mempunyai berbagai Ide yang ada di kepalaku lalu aku dengan rela bekerja keras untuk mewujudkannya, dengan senang hati membagi-bagikannya serta dengan ketakutan meredamnya bila sudah terasa begitu mengerikan untuk manusia lainnya serta kehidupanku sendiri. Me, my own ideas,my own life, and no one else.
vicious - 9:27 PM

 
SELF-PITY KILLS HUMANITY
Buat seorang teman yang tak kelihatan,
Aku muak dengan semua rasa iba kamu pada diri kamu sendiri! Pergi sana mengemis rasa kasihan orang lain, karena ambang batas kemampuanku sudah mencapai ujung yang paling lancip sekali sekarang! Jangan pernah bilang aku tidak pernah berusaha mengerti, Teman. Aku tahu bagaimana jahatnya tekanan kebutuhan-kebutuhan yang makin menjeratmu itu, yang tanpa sedikitpun memberi kesempatan untukmu bernafas barang lima menit untuk sekedar meluruskan kaki serta duduk-duduk di bawah pohon rindang.

Namun sekali lagi, itu adalah pilihan kamu sendiri untuk menjadi orang tertutup yang penuh kekhawatiran untuk mencoba hal-hal baru serta percaya pada orang lain. Sudah berapa kali aku beri kamu usulan untuk keluar dari semua itu? Sudah berapa banyak nama dan alamat bahkan nomor telpon aku sarankan untuk kamu ajak mengobrol sekedar mendapat sudut pandang berbeda dari yang kamu punya sekarang? Berapa kali aku ingatkan betapa masih jauh lebih beruntungnya kamu dibandingkan banyak orang lainnya di dunia ini? Bahkan ingat waktu kamu berjanji akan menuruti nasihatku, karena kamu sudah tidak tahu lagi mesti melakukan apa waktu itu? Toh, kamu tetap saja disana akhirnya.

Dan aku tetap disini tak bergeming mendengar semua sumpah serapah dan caci maki serta rasa ibamu yang meluap-luap bagi diri kamu sendiri itu! Hingga kamu buta terhadap luka dan derita orang lain, termasuk diriku. Bayangkan apa yang akan terjadi di dunia ini bila semua orang sibuk mengasihani dirinya sendiri setiap hari seperti kamu! Berapa banyak korban jiwa dan harta hilang tak berarti demi sebuah rasa kasihan belaka?! Tak masuk akalku sama sekali.

Anehnya (hebatnya!) kamu bisa menuntut serta marah-marah padaku bila sehari saja aku tidak menanggapi keluh kesah kamu! Kamu bilang aku bukan seorang teman sejati, atau sama saja dengan perempuan-perempuan lainnya serta sama sekali tidak pernah benar-benar memperdulikan kamu. Yeah, right! Apakah aku pernah meminta kamu datang ke hidupku untuk jadi teman? Jangan membuatku mesti menyakiti kamu saat aku cukup bisa pergi dan melupakan kita pernah berteman suatu kali.

Itulah yang membuatku akhirnya mesti menulis surat ini sebelum menghilang dari hidupmu esok lusa. Aku mesti jujur pada diriku sendiri karena kejujuranku padamu lebih sering menyakiti kita berdua akhir-akhir ini. Semoga kamu temukan teman baru yang punya ambang batas pengertian dan kesabaran yang jauh lebih besar dan tebal dariku.Semoga kamu bisa berhenti menghujani diri kamu sendiri dengan air mata saat yang kamu butuhkan adalah sejenak menoleh dan mendengar isak tangis orang lain di hidup kamu.

Besok, jangan lagi datang untuk menyapa, mengetuk pintu bahkan mendengar suaraku!

-You bored me to death, Darky!-
vicious - 9:23 PM

 
Me, myself and junkies!
Aku memang nggak minum, ngobat atau ngerokok termasuk nyimeng sekalipun. Tapi ini tidak membuatku tidak setuju dengan semua itu. Kenapa? Karena aku mulai meragukan kalau kemanusiaan seseorang ditentukan oleh ketergantungan dia pada barang-barang tersebut diatas. Dan ingat, yang namanya kecanduan bisa dimiliki semua orang dalam berbagai bentuknya diluar barang-barang diatas, karena aku sendiri adalah pecandu kopi sejak 4 tahun lalu.

Tapi sekarang kembali ke kecanduan pada barang-barang tersebut diatas ya! Setahun terakhir ini aku banyak bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang melakukan kesemua hal diatas dan mereka tidak pernah membuatku sedikitpun meragukan nilai kemanusiaan mereka. Karena mereka tetap tangkas berdiskusi, peka terhadap lingkungan sekitarnya dan berusaha keras untuk tidak merepotkan apalagi mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk mengkonsumsi semuanya itu. God, how I love most of them dearly!

Anehnya, yang selanjutnya aku sadari bahwa, saat seseorang menjadi pecandu obat misalnya, kemudian dia mempunyai hubungan cinta dengan seseorang yang bukan pecandu,mereka melihat diri mereka sendiri seperti bukan manusia! Mereka merasa tidak layak untuk mendapatkan cinta tersebut, atau merasa pasangannya terlalu baik untuk mereka serta bahkan akhirnya memutuskan hubungan tersebut walaupun pasangannya sama sekali tidak bermasalah dengan hal tersebut. Kenapa?

Kalau kita percaya cinta itu buta dan untuk semua orang, kenapa saat cinta itu menyengat dua orang manusia yang pecandu dan bukan pecandu...cinta tiba-tiba dibungkam kekuatannya? Aku bukannya tidak tahu sama sekali konsekuensi menjalin hubungan bahkan kemudian menikah dengan seorang pecandu, tapi aku tidak suka cara para pecandu tersebut memandang diri mereka sendiri! Marilah kita salahkan masyarakat yang membuat seorang pecandu kehilangan harga dirinya setelah mereka memang sudah kehilangan diri mereka sendiri....sebagai masyarakat yang umumnya langsung menganggap para pecandu sebagai sampah, mereka sendiri bukanlah para pemungut sampah yang baik!

Jangan salah, aku tidak pernah ingin selalu berkhotbah atau melarang-larang serta mengingatkan teman-temanku yang pecandu untuk berhenti atau bersembahyang dan ingat Tuhan! Karena aku selalu percaya, kecanduan hanya bisa berhenti bila memang si pecandu menginginkannya.Bukan orang lain. Dan mestinya bukan orang lain juga yang menentukan kemanusiaan seorang pecandu saat seseorang yang bukan pecandu datang dengan cinta dan ingin hidup bersamanya.

Iya, batas kekuatan dan kelemahan semua orang memang berbeda-beda kok! Makanya seorang pecandu tidak akan datang meminta pertolongan orang lain hingga memang dia tidak sampai di ambang batasnya (bahkan seringkali mereka sendirilah yang memutuskan untuk menyudahi perjuangan mereka untuk berhenti dengan mencabut nyawanya sendiri, iya-kan?), namun bila ada seseorang yang datang ke hidup kamu tanpa terlalu mempermasalahkan hal tersebut...terimalah dengan kebanggaan karena kamu manusia yang berhak mencintai dan dicintai, Sayang! Itu saja.

Dan untuk semua teman-temanku yang pecandu, ada saat dimana aku mesti pergi meninggalkan beberapa orang dari kalian,namun aku masih lebih sering menemukan saat-saat dimana aku tidak akan mau menggantikan kalian semua dengan orang lain manapun di dunia ini!

-From the one who can’t tell the difference between a junky and a liar-
vicious - 9:20 PM

 
GOOD GIRL OR BAD GIRL?
Good girls go to heaven, Bad girls go everywhere! tulisan di sticker favoritku.

Kalau membaca tulisan diatas, kamu pilih apa? Kalau aku, pilih jadi Good girl yang bisa kemana-mana, nggak cuma ke surga aja. Hehehe! Iya dong, kenapa mesti memilih yang dua itu kalau aku bisa membuat pilihanku sendiri. Iya-kan?

Oke, sekarang kalau aku bertanya, apa definisi kamu untuk Bad Girl? Good Girl? Kalau buat aku sendiri, begini definisinya. Sekali lagi, definisiku sendiri ya!

Bad Girl adalah perempuan yang suka menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Walaupun mungkin dengan segala kesadaran saat dia melakukan hal itu, namun sebenarnya saat yang bersamaan dia juga mengeksploitasi dirinya sendiri sehingga dia tidak bisa berharap akan dipandang setara di lingkungannya (bila memang ini yang dia inginkan ya!).

Ada beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari, yang secara tidak sadar (ataupun sadar) sebagai perempuan, kita menggunakan keperempuanan kita untuk mendapatkan yang kita mau.

Ingat waktu kita sengaja menangis di depan pacar kita supaya dia merasa bersalah, lalu buru- buru meminta maaf? Padahal mungkin saja sejujurnya kita yang salah. Tapi karena kita tahu beberapa lelaki paling tidak bisa melihat perempuan menangis (tidak tega katanya). Makanya kita gunakan kelemahan mereka untuk memperoleh kemenangan diri kita sendiri. Iya, aku tahu menangis juga bisa karena emosi, tapi aku yakin masih banyak kok perempuan yang menggunakan air mata untuk mendapatkan yang dia mau. Dan tidak cuma dari pacarnya tapi juga dari orang lain di sekitarnya. Sebuah jalan pintas yang kekanak-kanakan sekali. Kenapa tidak bisa bicara secara fair sih? Lonjakan emosi kan wajar, namanya juga manusia. Katanya kita juga punya otak dan mau dibilang sama berani dengan para lelaki? Bagaimana kalau sekarang tiba-tiba pacar kamu menangis saat sedang berargumen dengan kamu? Kesal, kaget, jijik? Jangan dong, kan kamu juga melakukan hal yang sama padanya? Wek!

Sekarang kalau aku bertanya, apakah kita masih mengharapkan semua orang membukakan pintu untuk kita bila masuk dalam sebuah ruangan? Membantu mengangkat barang bawaan kita? Memberikan kursi kosongnya? Membiarkan kita jalan lebih dulu di depan mereka? Boleh saja, namun bukan dengan alasan karena kita perempuan. Tapi semata karena kita hanya suka diperlakukan dengan baik dan dihargai, karena kitapun tahu kita bisa melakukan semua hal tersebut pada mereka. Tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan. Artinya, kalau kamu sedang berada di dalam bus yang penuh sesak lalu ada seorang lelaki menawarkan kursinya, jangan langsung merasa dia memandang kamu lemah. Katakan terima kasih bila kamu menerima tawarannya, dan juga katakan terima kasih kalaupun kamu tidak menghendakinya. Kenapa? Karena itu hanyalah sebuah tawaran belaka. Belum tentu ada tujuan terselubung di baliknya-kan? Nggak perlu paranoid gitu ah!

Ada teman lelakiku pernah bilang begini, Betapa beruntungnya perempuan! Mereka bisa dengan gampangnya terbebas dari segala masalah cuma dengan bermodal penampilan luar mereka saja. Karena bahkan seorang lelaki tampan sekalipun belum tentu bisa begitu mudahnya terlepas dari masalah semudah perempuan itu.Dan tepat sebelum aku mendelik sewot, aku tersadar,betapa banyak perempuan yang dicari disana sini setiap hari untuk berbagai lapangan pekerjaan, hanya dengan sebuah persyaratan: cantik. Atau istilah halusnya mereka biasanya menuliskan dengan: berpenampilan menarik. Yeah, right!

Di luar negeri, kalau sebuah iklan pencari kerja bertulisan mencari pekerja dengan deskripsi seperti diatas, kabarnya, bisa dianggap iklan tersebut seksis. Karena berarti perusahaan tersebut tidak membuka kesempatan yang fair bagi para pelamar yang membaca iklan mereka itu. Menarik, namun tampaknya belum bisa diterapkan disini. Aku sendiri memang beruntung karena bidang pekerjaanku memang yang tidak mementingkan penampilan, namun otak dan sifat. Aku bahkan tidak perlu bertemu klienku kalau aku tidak merasa perlu atau mereka bisa membayar waktuku itu. Ha! Semuanya memang di tanganku. And it does feel good, baby! Hehehe!

Sekarang mari kita membahas definisiku tentang Good Girl. Buatku, Good Girl adalah perempuan yang tahu dia tidak perlu menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Artinya, dia tahu kalau dengan semua yang dia miliki sebagai seorang perempuan baik itu secara fisik maupun mental bukan berarti dia harus menggunakan itu semua untuk mendapatkan yang dia inginkan di hidup ini. Contohnya? Tidak, aku tak akan langsung mengatakan perempuan yang menggunakan otaknyalah yang lantas menjadi seorang Good Girl. Namun juga perempuan yang tidak perlu menggunakan segala sesuatu yang terlanjur melekat pada dirinya sekalipun, untuk menjadi alat dalam memperoleh apa yang dia mau di hidup ini. Seperti? Anak.

Yup! Anak. Sesuatu yang amat sangat lekat dengan yang namanya perempuan. Buktinya, berapa banyak setiap hari kita melihat para perempuan pengemis atau pemulung yang menggendong anak-anak kecil bahkan bayi yang terlihat sakit-sakitan dan kurang makan di jalan hanya untuk membuat kita berbelas kasihan? Terlepas dari mereka anak kandungnya atau bukan. Karena sekarang berapa besar perbandingannya dengan pengemis pria yang menggendong anak kecil juga? Hampir-hampir tidak ada. Nah, kenapa perempuan ini tidak sendirian saja mengemis kalau memang itu yang dia lakukan untuk mencari uang? Tidak perlu lah dia membawa-bawa anak kecil yang biasanya toh dia pinjam dengan membayar sejumlah uang pada orangtuanya, bukan anaknya sendiri. Walau, kalau mereka anak kandungnya sekalipun bukan berarti tindakannya jadi lebih bisa diterima.

Kenapa? Karena secara tidak sadar, hal ini akan menciptakan sebuah gambar pilihan bagi anak-anak tersebut akan cara mencari uang yang semudah dengan kelihatan mengibakan saja, yang akan mereka bawa hingga mereka dewasa. Lalu, kapan anak-anak itu bisa keluar dan besar dengan cara yang berbeda serta lebih baik dari hari ini? Kapan mereka bisa mulai menggunakan tenaga dan otaknya untuk belajar tentang hal yang lebih daripada sekedar mencari makan di jalan?

Pernah nonton film, Erin Brokovich? Aku suka karakter perempuan seperti Erin. Hanya karena dia punya tiga orang anak dari tiga orang mantan suami yang mesti dia hidupi, bukan berarti terus dia tidak berdandan, makan es krim di dapurnya tengah malam, dan mencari kerja sesuai dengan keahlian yang dia bisa tanpa perlu jadi peminta-minta. Ditambah ternyata dia memang tekun dan pintar, sehingga mampu membongkar kasus pencemaran lingkungan dengan tuntutan ganti rugi terbesar di Amerika, membuat Erin terlihat begitu realistis sekaligus langka. Dan ini kisah nyata ya, bukan fiksi. Nonton deh!

Bukan, aku bukannya sok tidak tahu dengan tuntutan dimana kita mesti makan dan bekerja supaya bisa hidup. Ini urusan perut! Iya, tapi sekarang mereka yang jadi pelacur pun sebenarnya tahu, itu bukanlah satu-satunya cara untuk bertahan hidup-kan? Pilihan. Pilihan-pilihan dalam hidup. Pilihan untuk perempuan mengeksploitasi dirinya, dieksploitasi atau tidak kedua-duanya. Karena dia bahkan bisa memilih untuk menciptakan sebuah pilihan berbeda untuk bertahan hidup kalau dia mau.

Nah, kembali ke pertanyaan aku diatas. Kamu Good Girl atau Bad Girl? Apa definisi kamu akan keduanya tadi? Apapun itu, ingatlah bahwa keduanya bukanlah pilihan mutlak di dunia ini. Buat pilihan kamu sendiri, ciptakan istilah kamu sendiri, pertanyakan semuanya yang lingkungan kamu beri kepada kamu dari kamu kecil hingga hari ini.

Good girls go to heaven, Punk Girls go nowhere tulisan di sticker gitar temanku. Hehehe!
vicious - 9:18 PM

 

.

HOME
&
ARCHIVES


tulisan.wawancara.ulasan.catatan.pilihan.sendirian.